TfC0Tpd7Tpd5GUC9TfA0BUr7BY==

Khutbah Jumat Dzulqa'dah: Sejarah Umrah Rasulullah dan Persiapan Menjelang Ibadah Haji

Khutbah Jumat Minggu Keempat: Sejarah Umrah Rasulullah dan Persiapan Menjelang Ibadah Haji

Minggu terakhir bulan Dzulqa'dah difungsikan sebagai transisi teologis menuju puncak ibadah haji dan kurban di bulan Dzulhijjah. Narasi khutbah ini dibangun secara komprehensif di atas tinjauan kesejarahan (sirah nabawiyah) untuk mengekstrak hikmah dari kecintaan mendalam Rasulullah SAW terhadap ibadah umrah di bulan ini. Argumentasi tekstual bertumpu pada preseden sahih yang menyatakan bahwa keempat pelaksanaan umrah Rasulullah pasca-hijrah seluruhnya ditunaikan atau diinisiasi pada bulan Dzulqa'dah. Data empiris dari sirah ini kemudian diikat dengan telaah tafsir klasik terhadap Surat Al-A'raf ayat 142 yang mendemonstrasikan bahwa bulan ke-11 ini merupakan fase kontemplatif selama 30 malam bagi para Nabi sebelum turunnya puncak pencerahan atau pelaksanaan haji agung. Melalui pendekatan ini, khatib menginjeksikan pesan perencanaan finansial syariah dan komitmen spiritual masyarakat di tahun 2026.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَيَّامَ وَالشُّهُوْرَ مَوَاسِمَ لِلطَّاعَاتِ، وَضَاعَفَ فِيْهَا لِلْمُخْلِصِيْنَ...source النُّفُوْسِ مِنَ الزَّلَّاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ رَبُّ الْأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ بِأَكْمَلِ الرِّسَالَاتِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أُوْلِيْ الْفَضَائِلِ وَالْمَكْرُمَاتِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَإِنَّهَا خَيْرُ الزَّادِ إِلَى يَوْمِ الْمَعَادِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ تَعَالَى قَالَ فِيْ مُحْكَمِ تَنْزِيْلِهِ، أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: وَوَاعَدْنَا مُوسَى ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً.

Hadirin jamaah sidang shalat Jumat yang terkasih dan dirahmati oleh Allah SWT,

Segala puji marilah kita persembahkan ke haribaan Allah SWT, Rabbul Alamin, yang kasih sayang-Nya tak terputus sedetik pun dalam merawat eksistensi kita di alam raya ini. Di hari Jumat yang mulia ini, dengan kondisi raga yang sehat wal afiat, kita masih dapat memenuhi panggilan azan untuk bersujud menyatukan barisan. Shalawat dan salam dengan penuh mahabbah kita haturkan kepada junjungan dan panutan utama, pengibar panji tauhid, Nabi Muhammad SAW. Khatib senantiasa mengingatkan kepada kita semua akan kewajiban fundamental sebagai seorang mukmin: marilah memelihara dan meningkatkan ketakwaan. Jadikan ketakwaan sebagai satu-satunya perbekalan yang esensial, karena kelak di hadapan pengadilan Allah, kekayaan harta, tingginya status akademik, dan luasnya kekuasaan 2026 ini tidak akan menyelamatkan kita kecuali hati yang bersih (Qalbun Salim).

Hadirin yang berbahagia, Waktu bergerak mendekati penghujungnya. Saat ini kita sedang meniti minggu-minggu terakhir di bulan Dzulqa'dah 1447 Hijriah, mendekati ambang pintu bulan yang amat suci, yakni Dzulhijjah, di mana di dalamnya tersimpan hari-hari terbaik dalam setahun. Bulan Dzulqa'dah memiliki ikatan emosional dan rekam jejak sejarah yang sangat pekat dengan syariat ibadah haji dan ibadah umrah. Ia adalah waktu pemanasan, persiapan, sekaligus bulan pergerakan (miqat zamani) bagi jamaah haji dari seluruh penjuru dunia.

Ada sebuah fakta kesejarahan yang sangat istimewa tentang hubungan antara bulan Dzulqa'dah dengan Baginda Nabi Muhammad SAW. Fakta ini sering kali terlupakan di benak umat. Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu memberikan persaksian yang diriwayatkan dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَمَرَ أَرْبَعَ عُمَرٍ كُلُّهُنَّ فِي ذِي الْقَعْدَةِ إِلَّا الَّتِي مَعَ حَجَّتِهِ "Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan umrah sebanyak empat kali. Seluruh ibadah umrah tersebut ditunaikan oleh beliau di bulan Dzulqa'dah, kecuali umrah yang dilaksanakan bersamaan dengan ibadah hajinya."

Ulama besar, Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, menguraikan kronologi keempat ibadah umrah Nabi SAW tersebut dengan presisi Pertama, Umrah Hudaibiyah yang terjadi pada tahun ke-6 Hijriah. Meski umrah ini dihalangi oleh kaum musyrikin Quraisy sehingga rombongan harus bertahallul di Hudaibiyah sebelum mencapai Ka'bah, niat suci ini diinisiasi di bulan Dzulqa'dah. Kedua, Umrah Qadha' (Umrah Pengganti) pada tahun berikutnya, yakni tahun ke-7 Hijriah, di mana Rasulullah bersama ribuan sahabat memasuki kota Makkah dengan damai di bulan Dzulqa'dah. Ketiga, Umrah yang berangkat dari Ji'ranah, setelah kemenangan besar dan pembagian pampasan perang Hunain pada tahun ke-8 Hijriah. Nabi SAW mengambil miqat dan berihram di bulan Dzulqa'dah. Keempat, Umrah yang dirangkai dan bersamaan dengan pelaksanaan Haji Wada' pada tahun ke-10 Hijriah.

Urutan Umrah Nabi SAW

Waktu Pelaksanaan (Hijriah)

Titik Keberangkatan/Peristiwa Terkait

Kedudukan dalam Historiografi

1. Umrah Hudaibiyah

6 H (Dzulqa'dah)

Hudaibiyah

Dihadang musyrikin Makkah; diakhiri Perjanjian Hudaibiyah

2. Umrah Qadha'

7 H (Dzulqa'dah)

Madinah

Pelaksanaan umrah pengganti dengan aman dan damai

3. Umrah Ji'ranah

8 H (Dzulqa'dah)

Ji'ranah

Dilaksanakan usai distribusi ghanimah Perang Hunain

4. Umrah Haji Wada'

10 H (Dzulqa'dah)

Madinah

Umrah qiran yang digabung dengan ibadah Haji terakhir Nabi

Mengapa Rasulullah mengkhususkan ibadah umrahnya di bulan Dzulqa'dah? Para ulama menerangkan bahwa ini adalah bukti autentik tentang kemuliaan Asyhurul Hurum. Dzulqa'dah bukan sekadar bulan istirahat pasca-Syawal, melainkan bulan yang dipenuhi dengan pancaran rahmat dan sirah kerinduan Nabi SAW ke Baitullah.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Keistimewaan eskalasi spiritual di bulan Dzulqa'dah juga terukir dalam Al-Qur'an Surat Al-A'raf ayat 142 yang mengisahkan perjalanan spiritual Nabi Musa AS:

وَوَاعَدۡنَا مُوسَىٰ ثَلَٰثِينَ لَيۡلَةٗ وَأَتۡمَمۡنَٰهَا بِعَشۡرٖ فَتَمَّ مِيقَٰتُ رَبِّهِۦٓ أَرۡبَعِينَ لَيۡلَةٗ "Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa untuk memberikan kepadanya kitab (Taurat) sesudah berlalu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya menjadi empat puluh malam."

Mufassir agung semacam Ibnu Katsir menukil pandangan Sayyidina Abdullah Ibnu Abbas, Mujahid, dan ulama salaf lainnya, bahwa masa "tiga puluh malam" di mana Nabi Musa melakukan puasa dan khalwat itu jatuh secara utuh di sepanjang bulan Dzulqa'dah. Sedangkan "sepuluh malam tambahan" yang menyempurnakannya merujuk pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, di mana pada puncaknya Taurat diturunkan. Peristiwa ini memberikan landasan filosofis bahwa pencapaian keagungan spiritual—baik itu wahyu bagi seorang nabi, atau haji yang mabrur bagi manusia biasa—membutuhkan fase persiapan, pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs), dan kesabaran minimal sebulan penuh di masa Dzulqa'dah.

Apa ibrah dan pelajaran praksis yang bisa kita tarik untuk kehidupan modern kita di tahun 2026 ini?

Pertama, jika Rasulullah SAW sangat memuliakan Dzulqa'dah dengan mengisinya melalui ibadah umrah ke Makkah, maka marilah kita yang saat ini tidak memiliki kelonggaran waktu dan biaya untuk ke sana, meniatkan hati untuk memakmurkan baitullah-baitullah (masjid-masjid) yang ada di sekitar kita. Mari kita siapkan kebersihan batin dan bertaubat dengan taubatan nasuha sebelum memasuki sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, di mana Ibnu Rajab mengingatkan bahwa amal ibadah di hari-hari tersebut keutamaannya melebihi segala hari di sepanjang tahun.

Kedua, realitas ekonomi di tahun 2026 menuntut perencanaan yang rasional dan matang. Ibadah haji dan umrah tidak hanya membutuhkan panggilan jiwa, tetapi juga kesiapan finansial. Jadikan sirah umrah Nabi ini sebagai pelecut semangat kita bekerja keras, menabung dengan sistem syariah, serta mendaftarkan diri meskipun antrean haji sangat panjang. Jangan tundukkan niat mulia ke tanah suci di bawah egoisme gaya hidup duniawi. Bagi yang belum mampu berhaji maupun umrah, perbanyaklah puasa sunnah, sedekah, dan doakanlah kemabruran bagi saudara-saudara Muslim kita yang tengah menunaikannya.

Ketiga, masa 30 hari yang dijalani Nabi Musa adalah simbol ketaatan yang berproses. Di tengah rutinitas kita mengejar karir, mengurus bisnis, dan menafkahi keluarga, mari kita berikan jeda ruang waktu untuk diri sendiri (muhasabah). Hitung kembali modal hidup yang masih kita miliki, persiapkan investasi amal saleh, dan selaraskan kompas kehidupan kita agar tujuan akhirnya tetap tertuju kepada ridha Rabbul Alamin.

Semoga Allah Azza wa Jalla merahmati kita, melembutkan hati kita untuk senantiasa taat pada perintah-Nya, dan memelihara keistiqamahan kita melintasi bulan Dzulqa'dah ini dengan purna. Semoga kelak kita dipertemukan dengan kemuliaan ibadah kurban dan arafah di bulan Dzulhijjah dengan iman yang lebih mendalam dan jiwa yang telah disucikan. Amin, Amin, ya Rabbal Alamin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَأَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اِتَّقُوا اللّٰهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ، فَقَالَ: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًااَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَانْصُرْ إِخْوَانَنَا فِيْ فَلَسْطِيْنَ وَأَنْزِلْ عَلَيْهِمْ رَحَمَاتِكَ يَا رَحْمٰنُ يَا رَحِيْمُ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْأَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا إِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِعِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.

Komentar0

Type above and press Enter to search.