TfC0Tpd7Tpd5GUC9TfA0BUr7BY==

Terjemah Kitab Washiyatul Musthofa: Rahasia Keutamaan Wudhu dan Shalat

Terjemah Kitab Washiyatul Musthofa: Rahasia Keutamaan Wudhu dan Shalat

Kitab Washiyatul Musthofa adalah salah satu literatur klasik yang memuat kumpulan wasiat dan nasihat penuh hikmah dari Rasulullah ﷺ kepada menantu sekaligus sahabat terdekatnya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah.

Dalam artikel ini, kita akan membahas terjemahan dan makna mendalam dari Kitab Washiyatul Musthofa, secara khusus pada bab yang menjelaskan tentang adab bersuci (wudhu), mandi Jumat, hingga tata cara dan keutamaan ibadah shalat.

1. Kesempurnaan Wudhu adalah Separuh Iman

Wudhu bukan sekadar membasuh air, melainkan sebuah ritual penyucian lahir dan batin. Rasulullah ﷺ berpesan agar kita tidak berlebihan menggunakan air dan menyempurnakan basuhan wudhu (Isbaghul Wudlu).

يَا عَلِيُّ اسْتَقْصِ اِسْبَاغَ الْوُضُوْءِ فَاِنَّهُ شَطْرُ الْاِيْمَانِ، فَاِذَا تَوَضَّأْتَ فَلَا تُسْرِفْ فِى الْمَاءِ، فَاِذَا فَرَغْتَ مِنْ طُهْرٍ فَاقْرَأْ اِنَّا اَنْزَلْنَاهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ مِنْ بَعْدِ غَسْلِ الْقَدَمَيْنِ عَشْرَ مَرَّاتٍ يُفَرِّجُ اللّٰهُ هَمَّكَ

"Wahai Sahabat Ali, perhatikanlah (secara cermat) kesempurnaan wudlu, karena sesungguhnya kesempurnaan wudlu adalah separuh iman. Tatkala kamu sedang berwudlu, maka janganlah kamu berlebihan di dalam air. Tatkala kamu telah selesai bersuci, maka bacalah surat 'Inna anzalnahu fi lailatil qadr' setelah membasuh kedua telapak kaki sebanyak 10 kali, maka Allah akan menghilangkan kesusahanmu."

Doa Setelah Wudhu dan Istighfar Malaikat

Setelah berwudhu, disunnahkan untuk mengusap leher dan membaca doa khusus. Selama seseorang mampu menjaga kesuciannya (tidak batal), maka para malaikat akan terus memohonkan ampunan untuknya.

يَا عَلِيُّ اِذَا فَرَغْتَ مِنْ الطَّهَارَةِ فَخُذْ مَاءً وَامْسَحْ بِيَدَيْكَ رَقَبَتَكَ وَقُلْ : سُبْحَانَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اَنْتَ وَحْدَكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ اَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ، ثُمَّ انْظُرْ اِلَى الْاَرْضِ وَقُلْ : اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ، فَاِنَّ مَنْ قَالَ هٰذَا غَفَرَ اللّٰهُ لَهُ كُلَّ صَغِيْرَةٍ وَكَبِيْرَةٍ

"Wahai Sahabat Ali, tatkala kamu telah selesai bersuci, maka ambillah air dan usaplah lehermu dengan kedua tanganmu, dan berdoalah: 'Maha Suci Allah, Ya Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Engkau semata, tiada sekutu bagi-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu'. Kemudian lihatlah ke bumi dan berdoalah: 'Aku bersaksi bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad adalah hamba-Mu dan utusan-Mu'. Karena sesungguhnya orang yang berdoa dengan doa ini, maka Allah akan mengampuni baginya setiap dosa kecil dan dosa besar."

يَا عَلِيُّ اِنَّ الْمَلَائِكَةَ يَسْتَغْفِرُوْنَ لِلْاِنْسَانِ مَا دَامَ عَلَى طَهَارَةٍ وَلَمْ يَحْدَثْ

"Wahai Sahabat Ali, sesungguhnya para malaikat memohonkan ampun kepada manusia (muslim) selama ia masih tetap pada keadaan suci dan tidak hadats."

2. Keutamaan Mandi Jumat dan Memakai Siwak

Kebersihan fisik memengaruhi kualitas ibadah. Rasulullah ﷺ sangat menekankan pentingnya mandi di hari Jumat dan penggunaan siwak untuk kesehatan mulut.

يَا عَلِيُّ مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ غَفَرَ اللّٰهُ لَهُ مَا بَيْنَ الْجُمْعَةِ اِلَى الْجُمْعَةِ وَجَعَلَ ذَلِكَ ثَوَابًا فِيْ قَبْرِهِ وَثَقُلَ عَلَى مِيْزَانِهِ

"Wahai Sahabat Ali, barang siapa yang mandi di Hari Jum'at, maka Allah akan mengampuni baginya dosa di antara hari Jum'at itu sampai hari jum'at selanjutnya, Dia menjadikan mandi itu sebagai pahala di dalam kuburnya, dan menjadikan berat di atas timbangan amal baiknya."

يَا عَلِيُّ عَلَيْكَ بِالسِّوَاكِ فَفِيْهِ اَرْبَعَةٌ وَعِشْرُوْنَ فَضِيْلَةً فِى الدِّيْنِ وَالْبَدَنِ

"Wahai Sahabat Ali, hendaklah kamu senantiasa memakai siwak, karena di dalamnya ada 24 keutamaan di dalam agama dan (kesehatan) badan."

3. Shalat Fardhu: Puncak dari Segala Ibadah

Shalat tepat waktu adalah fondasi utama seorang mukmin. Begitu mulianya ibadah shalat berjamaah dan amalan sosial lainnya, hingga Malaikat Jibril pun berangan-angan menjadi manusia.

يَا عَلِيُّ عَلَيْكَ بِالصَّلَاةِ فِيْ اَوْقَاتِهَا فَاِنَّهَا رَأْسُ كُلِّ فَضِيْلَةٍ وَسَنَامُ كُلِّ عِبَادَةٍ

"Wahai Sahabat Ali, hendaklah kamu senantiasa melaksanakan sholat pada waktu-waktunya, karena sesungguhnya itu adalah pokok dari setiap keutamaan dan puncak setiap ibadah."

يَا عَلِيُّ تَمَنَّى جِبْرِيْلُ اَنْ يَكُوْنَ مِنْ بَنِى اٰدَمَ لِسَبْعِ خِصَالٍ: الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ مَعَ الْاِمَامِ وَمُجَالَسَةِ الْعُلَمَاءِ وَعِيَادَةِ الْمَرِيْضِ وَتَشْيِيْعِ الْجَنَازَةِ وَسَقْيِ الْمَاءِ وَالصُّلْحِ بَيْنَ الْاِثْنَيْنِ وَاِكْرَامِ الْجَارِ وَالْيَتِيْمِ، فَاحْرِصْ عَلَى ذَلِكَ

"Wahai Sahabat Ali, Malaikat Jibril berharap agar ia tergolong keturunan Nabi Adam (manusia) karena 7 perkara: sholat 5 waktu bersama imam, bermajlis bersama ulama', menjenguk orang sakit, mengiring jenazah, memberi minum air (kepada orang yang kehausan), mendamaikan antara 2 orang, memuliakan tetangga dan anak yatim. Maka lobalah (sangatlah ingin) kamu pada ketujuh perkara ini."

Tata Cara Takbir dan Rukuk

يَا عَلِيُّ اِذَا كَبَّرْتَ لِلصَّلَاةِ فَفَرِّجْ اَصَابِعَكَ وَارْفَعْ يَدَيْكَ حَذْوَ مَنْكِبَيْكَ وَاِذَا كَبَّرْتَ فَضَعْ يَمِيْنَكَ عَلَى شِمَالِكَ تَحْتَ سُرَّتِكَ وَاِذَا رَكَعْتَ فَضَعْ يَدَيْكَ عَلَى رُكْبَتِكَ وَفَرِّجْ بَيْنَ اَصَابِعِكَ

"Wahai Sahabat Ali, tatkala kamu takbir karena melaksanakan sholat, maka rentangkanlah jari-jarimu dan angkatlah kedua tanganmu lurus tepat di kedua pundakmu. Tatkala kamu takbir, maka letakkanlah tangan kananmu di atas tangan kirimu di bawah pusar. Dan tatkala kamu rukuk, maka letakkanlah kedua tanganmu di atas kedua lututmu dan rentangkanlah di antara jari-jarimu."

Waktu Shalat dan Keutamaan Berjamaah

يَا عَلِيُّ اَسْفِرْ بِالصُّبْحِ وَصَلِّ الْمَغْرِبَ بَعْدَ غِيَابِ الشَّمْسِ بِقَدْرِ حَلَبِ شَاةٍ فَاِنَّ ذَلِكَ مِنْ خِصَالِ الْاَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ 

"Wahai Sahabat Ali, sholatlah subuh di waktu terbitnya fajar dan sholatlah maghrib setelah terbenamnya matahari kira-kira selama memerah susu kambing, karena demikian itu merupakan perbuatan para nabi alaihimus salam." 

يَا عَلِيُّ عَلَيْكَ بِصَلَاةِ الْجَمَاعَةِ فَاِنَّهَا عِنْدَ اللّٰهِ كَمَشِيْكَ اِلَى الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ وَمَا يَحْرُصُ عَلَى صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ اِلَّا رَجُلٌ مُؤْمِنٌ قَدْ اَحَبَّهُ اللّٰهُ وَمَا يَزْهَدُ فِيْهَا اِلَّا مُنَافِقٌ قَدْ اَبْغَضَهُ اللّٰهُ 

"Wahai Sahabat Ali, hendaklah kamu senantiasa melaksanakan sholat jamaah, karena sesungguhnya sholat jamah di sisi Allah seperti berjalan pada ibadah haji dan umrah. Tiada seseorang yang loba (sangat ingin) untuk melaksanakan sholat jamaah kecuali seorang mukmin yang dicintai Allah, dan tiada seorang yang benci sholat jamaah kecuali orang munafiq yang benar-benar dimurkai Allah."

4. Keistimewaan Qiyamul Lail, Dhuha, dan Doa dalam Sujud

Selain ibadah fardhu, Rasulullah ﷺ juga mengijazahkan amalan shalat sunnah yang memiliki keutamaan luar biasa untuk menerangi wajah di dunia dan membuka pintu surga di akhirat.

يَا عَلِيُّ صَلِّ بِاللَّيْلِ وَلَوْ كَحَلَبِ شَاةٍ فَالْمُصَلِّى بِاللَّيْلِ اَحْسَنُ النَّاسِ وَجْهًا

"Wahai Sahabat Ali, sholatlah pada malam hari meskipun (sebentar) seperti memerah susu kambing, maka orang yang sholat di malam hari adalah manusia yang paling baik wajahnya."

يَا عَلِيُّ عَلَيْكَ بِصَلَاةِ الضُّحٰى فِى السَّفَرِ وَالْحَضَرِ فَاِنَّهُ اِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يُنَادِى مُنَادٍ مِنْ فَوْقِ شَرَفِ الْجَنَّةِ : اَيْنَ الَّذِيْنَ كَانُوْا يُصَلُّوْنَ الضُّحٰى ؟ اُدْخُلُوْا مِنْ بَابِ الضُّحٰى بِسَلَامٍ اٰمِنِيْنَ، وَمَا بَعَثَ اللّٰهُ مِنْ نَبِيٍّ اِلَّا وَاَمَرَهُ بِصَلَاةِ الضُّحٰى

"Wahai Sahabat Ali, hendaklah kamu senantiasa melaksanakan sholat Dhuha baik di dalam perjalanan maupun saat mukim, karena sesungguhnya tatkala hari kiamat telah tiba, maka menyerulah Dzat yang Maha Menyeru dari atas surga yang mulia: 'Di manakah orang-orang yang melaksanakan sholat dhuha? Masuklah kalian dari pintu Dhuha dengan sejahtera dan aman'. Dan tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali Dia memerintahkannya untuk melaksanakan sholat Dhuha."

يَا عَلِيُّ اَحَبُّ الْعِبَادِ اِلَى اللّٰهِ عَبْدٌ سَاجِدٌ يَقُوْلُ فِيْ سُجُوْدِهِ : رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْلِيْ ذَنْبِيْ فَاِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اَنْتَ

"Wahai Sahabat Ali, hamba-hamba yang paling dicintai Allah adalah seorang hamba yang bersujud sembari berdoa di dalam sujudnya: 'Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah mendholimi diriku, maka ampunilah dosaku, karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau'."

Kesimpulan: 3 Kemuliaan Seorang Mukmin

Sebagai penutup bab ini, Rasulullah ﷺ merangkum kemuliaan hidup seorang mukmin dalam tiga pilar utama yang menyangkut hubungan keluarga, agama, dan sosial masyarakat.

يَا عَلِيُّ مِنْ كَرَامَةِ الْمُؤْمِنِ زَوْجَةٌ مُوَافِقَةٌ وَالصَّلَاةُ جَمَاعَةً وَجِيْرَانٌ يُحِبُّوْنَهُ

"Wahai Sahabat Ali, termasuk kemuliaan seorang mukmin adalah memiliki istri yang patuh pada suami, (senantiasa melaksanakan) sholat berjamaah, dan tetangga-tetangganya mencintainya."

Wallahu a'lam bish showab.

Keterangan Tambahan Tentang Rahasia Keutamaan Wudhu dan Shalat

Kitab Washiyatul Musthofa (Wasiat Nabi Muhammad ﷺ kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.) adalah salah satu kitab yang sangat populer dan sering dikaji di berbagai pondok pesantren di Indonesia. Kitab ini berisi rangkuman adab, akhlak, dan fadhailul a'mal (keutamaan amal).

Meskipun secara sanad keilmuan hadits beberapa riwayat dalam kitab ini dikategorikan sebagai hadits dha'if (lemah secara jalur periwayatan), para ulama Ahlussunnah wal Jama'ah (termasuk NU) sepakat bahwa meriwayatkan dan mengamalkannya dalam bab fadhailul a'mal adalah hal yang sangat baik dan dianjurkan, karena substansinya sejalan dengan hadits-hadits shahih lainnya.


Berikut adalah referensi pendukung dari kitab-kitab salaf lainnya beserta hikayat (kisah) ulama yang berkaitan langsung dengan wasiat-wasiat di atas:

1. Tentang Menjaga Kesucian (Dawamul Wudlu) dan Membaca Surat Al-Qadr

Referensi Kitab Lain:

  • Kitab Al-Adzkar (Imam An-Nawawi): Imam An-Nawawi mencantumkan kesunnahan membaca doa setelah wudhu (Syahadat dan doa taubat) yang pahalanya adalah dibukakannya delapan pintu surga. Beliau juga menukil riwayat Ad-Dailami tentang kesunnahan membaca Surat Al-Qadr setelah wudhu agar dijauhkan dari berbagai kesusahan.
  • Kitab Bidayatul Hidayah (Imam Al-Ghazali): Imam Al-Ghazali sangat menekankan larangan israf (berlebih-lebihan) dalam menggunakan air wudhu. Menggunakan air secukupnya adalah bagian dari kesempurnaan adab kepada Allah.

Hikayat/Kisah (Terompah Bilal bin Rabah):

Kisah paling masyhur tentang keutamaan menjaga wudhu adalah kisah sahabat Bilal bin Rabah r.a. Suatu ketika setelah shalat Subuh, Rasulullah ﷺ bertanya kepada Bilal, "Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amal yang paling engkau andalkan dalam Islam, karena sesungguhnya aku mendengar suara langkah sandalmuk di surga." Bilal menjawab, "Tidak ada amal yang paling aku andalkan selain bahwa setiap kali aku berwudhu (bersuci), baik siang maupun malam, aku selalu mendirikah shalat sunnah (syukrul wudhu) setelahnya." (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Tentang Keinginan Malaikat Jibril Menjadi Manusia (7 Perkara)

Referensi Kitab Lain:

  • Kitab Nawadirul Qalyubi (Syekh Syihabuddin Al-Qalyubi): Dalam kitab ini dan juga kitab Durratun Nasihin, sering dikisahkan tentang kekaguman para malaikat terhadap ibadah sosial umat manusia. Malaikat diciptakan tanpa nafsu dan tidak memiliki rasa sakit, lapar, atau konflik sosial. Oleh karena itu, ibadah seperti menjenguk orang sakit, mendamaikan orang berselisih, dan memuliakan anak yatim adalah ibadah eksklusif manusia yang pahalanya sangat diidamkan oleh Malaikat Jibril.

Hikayat/Kisah (Menjenguk Orang Sakit):

Disebutkan dalam riwayat Imam Muslim, kelak di hari kiamat Allah ﷻ berfirman kepada seorang hamba: "Wahai anak Adam, Aku sakit, namun engkau tidak menjenguk-Ku." Hamba itu bingung dan bertanya, "Ya Rabb, bagaimana aku menjenguk-Mu padahal Engkau Tuhan semesta alam?" Allah menjawab, "Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku fulan sakit? Jika engkau menjenguknya, niscaya engkau mendapati-Ku di sisinya." Inilah rahasia mengapa Jibril sangat ingin menjenguk orang sakit.

3. Tentang Shalat Malam (Tahajjud) Memperindah Wajah

Referensi Kitab Lain:

  • Sunan Ibnu Majah & Kitab Ihya Ulumuddin: Terdapat riwayat yang semakna, "Barangsiapa yang banyak shalat di malam hari, maka wajahnya akan indah (berseri) di siang hari." (HR. Ibnu Majah).

Hikayat/Kisah (Jawaban Imam Hasan Al-Bashri):

Seorang tabiin besar, Imam Hasan Al-Bashri, pernah ditanya oleh murid-muridnya: "Wahai Imam, mengapa orang-orang yang senantiasa bangun untuk shalat tahajjud memiliki wajah yang paling berseri-seri dan indah dipandang di siang hari?"

Hasan Al-Bashri menjawab dengan kalimat yang sangat indah: "Karena mereka menyendiri (berkhalwat) bersama Allah Ar-Rahman di kegelapan malam, lalu Allah memakaikan kepada mereka cahaya dari cahaya-Nya."

4. Tentang Shalat Dhuha dan Pintu Surga (Bab ad-Dhuha)

Referensi Kitab Lain:

  • Kitab Riyadhus Shalihin (Imam An-Nawawi) & Al-Mu'jam Al-Kabir (Imam At-Thabrani): Imam Thabrani meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah r.a. yang senada dengan wasiat Nabi kepada Ali: "Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pintu yang bernama pintu Dhuha. Pada hari kiamat kelak ada penyeru yang memanggil: Di manakah orang-orang yang melanggengkan shalat Dhuha? Inilah pintu kalian, masuklah dengan rahmat Allah."

Hikayat/Kisah (Sedekah Persendian):

Dalam syarah (penjelasan) kitab-kitab hadits, dijelaskan bahwa setiap manusia memiliki 360 persendian, dan setiap harinya masing-masing sendi wajib disedekahi sebagai rasa syukur karena masih bisa bergerak. Para ulama salaf sangat menjaga shalat Dhuha dua rakaat, karena Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa dua rakaat Dhuha sudah cukup untuk mewakili sedekah bagi ke-360 sendi tubuh tersebut.

5. Tentang Pengakuan Dosa dalam Sujud

Referensi Kitab Lain:

  • Kitab Al-Hikam (Syekh Ibnu Atha'illah as-Sakandari): Dalam kajian tasawuf Aswaja, pengakuan akan kehinaan diri (dzull) di hadapan Allah adalah kunci masuknya rahmat.

Hikayat/Kisah (Doa Nabi Yunus):

Wasiat Nabi kepada Sayyidina Ali untuk berdoa "Rabbi inni zhalamtu nafsi..." (Tuhanku, aku telah mendhalimi diriku) adalah manifestasi dari doa para Nabi. Ini mengingatkan pada kisah Nabi Yunus a.s. saat berada di dalam perut ikan paus. Beliau tidak meminta dikeluarkan, tetapi hanya mengakui kesalahannya dengan membaca, "La ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minadz dhalimin" (Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim). Pengakuan dosa di saat sujud inilah (posisi terendah manusia) yang paling cepat mengundang ampunan Allah ﷻ.


Komentar0

Type above and press Enter to search.