TfC0Tpd7Tpd5GUC9TfA0BUr7BY==

Antara Punden, Cikal Bakal, dan Danyang: Menyelami Tradisi Jawa di Zaman Akhir

Antara Punden, Cikal Bakal, dan Danyang: Menyelami Tradisi Jawa di Zaman Akhir

Ilmusantri.com “Di zaman serba modern ini, manusia berlari mengejar kemajuan, tapi sering lupa asal-usulnya. Ironisnya, sebagian justru kembali mencari ‘kekuatan gaib’ di tempat-tempat keramat. Lalu, bagaimana Islam memandang fenomena ini?”

Apa Itu Punden dalam Tradisi Jawa?

Dalam tradisi masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah, punden adalah tempat yang dianggap suci dan dikeramatkan. Biasanya berupa:

  • Pohon besar yang sudah tua,
  • Batu besar di tepi sungai,
  • Atau makam leluhur desa.

Masyarakat meyakini punden sebagai simbol kesucian dan asal-usul desa, tempat untuk ngelingi (mengingat) para leluhur, sekaligus menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Akal Bakal dan Cikal Bakal: Leluhur Pendiri Desa

Istilah akal bakal atau cikal bakal mengacu pada orang pertama yang membuka dan mendirikan suatu wilayah. Sosok ini dihormati karena jasanya dalam membangun tatanan sosial dan kehidupan masyarakat.

Ungkapan Jawa mengatakan:

“Wong sing ora eling marang asal-usulé, ora bakal ngerti arah uripé.”
(Orang yang lupa asal-usulnya, tidak akan tahu arah hidupnya.)

Dalam konteks budaya, penghormatan kepada cikal bakal adalah bentuk adab dan penghargaan, bukan penyembahan.

Danyang Desa: Penjaga Gaib dalam Kepercayaan Lama

Danyang dalam kepercayaan Jawa lama dianggap sebagai roh penjaga desa. Ia dipercaya berasal dari arwah leluhur yang menjaga ketentraman dan keselamatan warga.
Oleh sebab itu, masyarakat sering mengadakan ritual sedekah bumi atau ruwatan desa sebagai tanda hormat dan permohonan keselamatan.

Namun di sinilah sering muncul batas tipis antara penghormatan budaya dan penyimpangan akidah.

Pandangan Islam terhadap Punden dan Danyang

Islam datang dengan membawa tauhid dan tuntunan adab terhadap budaya setempat.
Rasulullah bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad, No. 8729)

Artinya, Islam tidak menghapus budaya, tetapi menyucikannya dari unsur syirik dan khurafat.

Aspek Tradisi

Nilai Budaya

Pandangan Islam

Menghormati cikal bakal

Mengajarkan adab dan penghargaan

Boleh, selama hanya mengenang dan mendoakan

Sedekah bumi / bersih desa

Syukur atas nikmat Allah

Boleh, jika niatnya syukur kepada Allah, bukan persembahan kepada roh

Ziarah ke makam leluhur

Mengingat kematian dan jasa orang tua

Sunnah, selama tidak meminta kepada arwah

Memuja punden / danyang

Kepercayaan pada kekuatan selain Allah

Haram, termasuk syirik besar

Sikap Islam: Menghormati Tanpa Menyembah

Ulama Ahlus Sunnah wal Jama‘ah (ASWAJA) menekankan sikap tawasuth (moderat) terhadap budaya Jawa:

  • Melestarikan tradisi sosial,
  • Tetapi memurnikan niatnya hanya kepada Allah.

Oleh sebab itu, banyak sedekah bumi kini diganti dengan tahlilan, doa bersama, dan pengajian — bukan sesajen.
Ritualnya boleh berubah, tapi maknanya tetap: syukur kepada Allah atas nikmat dan keselamatan.

⏳ Refleksi Zaman Akhir

Di tengah gempuran teknologi dan modernitas, banyak orang justru kembali pada pencarian “energi spiritual” melalui tempat keramat, pesugihan, dan ritual gaib.
Padahal Rasulullah telah memperingatkan:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي مَكَانَهُ
“Tidak akan datang kiamat hingga seseorang melewati kuburan dan berkata: ‘Andai aku di tempat orang mati ini.’”
(HR. Bukhari, No. 7115)

Hadis ini menggambarkan fitnah akhir zaman — ketika manusia kehilangan arah spiritual, lalu mencari kekuatan selain Allah.

Penutup: Dari Punden Menuju Tauhid

Tradisi punden, cikal bakal, dan danyang adalah bagian dari sejarah spiritual orang Jawa. Ia menunjukkan kerinduan manusia terhadap kekuatan yang lebih tinggi.
Namun Islam datang membawa cahaya tauhid — bahwa semua kekuatan hanya milik Allah.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
(QS. Al-Fatihah: 5)

Islam tidak menghapus akar budaya, tetapi mengembalikannya kepada sumber kemurnian iman.
Kita boleh mencintai tradisi Jawa, selama cinta itu menguatkan tauhid, bukan menodainya.

 


Komentar0

Type above and press Enter to search.