TfC0Tpd7Tpd5GUC9TfA0BUr7BY==

Biografi KH. Abdul Hannan Ma’shum (Kwagean)

Menelusuri Jejak KH. Abdul Hannan Ma’shum (Maksum) Kwagean — Biografi Lengkap & Kutipan Wawancara Terbaru

KH. Abdul Hannan Ma’shum — sering disebut Romo Kyai Hannan atau Maksum — adalah pengasuh dan pendiri Pondok Pesantren Fathul ’Ulum Kwagean, Kediri. Dikenal sebagai kiai yang menggabungkan tradisi kitab kuning, sufisme (neo-sufisme), dan praktik pengasuhan pesantren yang kuat. Artikel ini merangkum latar hidup, karya, pengaruh, dan menyajikan kutipan wawancara/ceramah terbaru yang terekam publik.

KH. Abdul Hannan Ma’shum juga dikenal sebagai kiai kharismatik asal Kediri yang dikenal karena kesederhanaan, laku spiritualnya yang kuat, serta dedikasinya dalam mengembangkan Pondok Pesantren Fathul Ulum Kwagean Pare. Beliau lahir pada 1953 di Boto Putih, Canggu, Kediri, dari keluarga sederhana yang hidup dari bertani, menjahit, dan berdagang kecil.

Sejak kecil, KH. Hannan tumbuh sebagai anak yang ulet dan rendah hati. Setelah lulus sekolah diniyah, beliau melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Roudlotul Ulum Kencong di bawah bimbingan KH. Ahmadi dan KH. Zamroji. Selama kurang lebih 15 tahun, beliau menekuni kitab kuning, menghafal Alfiyah, mendalami tasawuf, serta melakukan riyadhah berat seperti puasa ngrowot, mutih, dan latihan disiplin spiritual lainnya.



Pada tahun 1980, beliau menikah dengan Nyai Miftahul Munawaroh dan mulai mengajar di Kwagean. Dari pengajian kecil di rumah mertua, berkembanglah Pesantren Fathul Ulum, yang beliau bangun sedikit demi sedikit dengan kerja keras—mulai dari berjualan singkong hingga beternak ayam ratusan ekor.

Kini, Pesantren Fathul Ulum menjadi pusat pendidikan yang melahirkan banyak kiai muda di berbagai daerah. KH. Hannan dikenal bukan hanya sebagai ahli alat dan ahli hikmah, tetapi juga sosok yang zuhud, disiplin, penyabar, dan sangat tawadhu’. Keistiqamahan beliau dalam menjaga ibadah, kebersihan, dan ketertiban menjadi teladan kuat bagi santri dan masyarakat.

Tokoh-tokoh yang pernah menjadi murid beliau kini tersebar di berbagai pesantren besar di Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat. Pengaruh KH. Abdul Hannan Ma’shum terus hidup melalui pesantren, karya-karya pengajarannya, dan ribuan alumni yang meneruskan nilai-nilai kesalafannya.

Berikut Biografi Lengkap KH. Abdul Hannan Ma’shum (Kwagean):

Data identitas & kelahiran

KH. Abdul Hannan Ma’shum lahir pada 1953 M di Boto Putih, Kecamatan Canggu, Kediri, sekitar 5 km dari Dusun Kwagean tempat beliau menetap saat ini.

Beliau merupakan putra pasangan:
  • Ayah: Ma’shum – seorang buruh tani dan penjual kelapa
  • Ibu: Siti Nu’amah – penjahit kecil dan penjual onde-onde (wafat 2005)
Sejak kecil, Hannan hidup dalam kesederhanaan total, membantu orang tua angon wedus, mencari rumput, dan memelihara ayam–itik. Kebiasaan ini membentuk karakter beliau menjadi pribadi ulet, sabar, dan rendah hati.

Saat mondok di Kencong, KH. Zamroji sering memanggilnya dengan sebutan “Dul”. Sebagai bentuk tawadhu’ dan tabarruk, beliau menambahkan kata Abdul di depan namanya sehingga menjadi: Abdul Hannan Ma’shum. Nama "Ma’shum" dinisbatkan kepada ayah beliau sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua.

Riwayat Keluarga dan Saudara

KH. Hannan adalah putra ke-4 dari 12 bersaudara, di antaranya:
  • Bapak Khozin (Boto Putih)
  • Ibu Binti (Mangiran Pare)
  • KH. Abdul Hannan Ma’shum
  • Ibu Istiqomah (Bringin Pare)
  • Bapak Habib (Boto Putih)
  • KH. Romdli Anwar (Kebon Sari)
  • dan beberapa saudara lain yang wafat saat kecil

Masa kecil & pendidikan

KH. Abdul Hannan tumbuh dalam keluarga petani dan penjahit; sejak kecil ia menempuh pendidikan pesantren tradisional. Ia mondok di beberapa pesantren termasuk Raudlatul Ulum Kencong pada masa mudanya dan menghabiskan banyak waktu menuntut ilmu kitab kuning dan tasawuf praktis. Jalur sanad dan pengajaran tradisional membentuk gaya pengasuhan dan metode dakwahnya.  

Pendidikan masa kecil eliau menempuh pendidikan di:

  • Sekolah Rakyat (SR) – dibimbing bapak Jendol
  • Madrasah Wajib Belajar (WMB)
  • Madrasah Tingkat Tinggi (MTT) – lulus 1965

Berdirinya Pondok Pesantren Fathul ’Ulum Kwagean

15 hari setelah menikah, KH. Hannan mengadakan pengajian di rumah mertua. Murid-muridnya secara diam-diam membuat brosur pengajian untuk mengundang lebih banyak jamaah. Selama 11 bulan, beliau menghatamkan 45 kitab — angka yang luar biasa. Inilah embrio berdirinya Pesantren Fathul Ulum. 

KH. Hannan adalah pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Fathul ’Ulum Kwagean, sebuah lembaga pendidikan Islam yang menyelenggarakan madrasah, pondok putra/putri, madrasah diniyah, kajian kitab, dan program-program wirid/ijazah. Situs resmi pesantren memuat profil kegiatan pendidikan dan pengumuman rutin. 

Angkring Monumental

Karena jamaah semakin banyak, beliau pindah ke Kwagean Utara, membangun angkring dari teple (anyaman daun kelapa). Inilah pondasi awal pesantren. Beliau bertahan di angkring itu selama 3 tahun sebelum mendirikan ndalem. 

Menikah dan Membina Rumah Tangga

Pada tahun 1980 (usia 27 tahun), beliau dinikahkan oleh KH. Zamroji dengan Nyai Miftahul Munawaroh (usia 16 tahun) putri pasangan H. Anwar & Hj. Asmurah, Kwagean.

Dikaruniai 12 putra-putri, di antaranya:
  1. H. Agus Miftahuddin
  2. H. Agus Muhdloruddin
  3. Ning Rif’atul Hasanah
  4. Agus Muslim Aziz
  5. Agus Muhammad Barizi
  6. Agus Muhammad Idris
  7. Agus Muhammad Baha’udin
  8. Ning Fia
  9. Ning Faidatus Sirriyyah
  10. Agus Ahmad Muhammad

Riyadhah dan Laku Spiritual

Dalam perjalanan ilmunya, beliau menjalani riyadhah berat, antara lain:
  • Puasa ngrowot 41 hari (dilakukan bertahun-tahun)
  • Puasa mutih 41 hari
  • Puasa tark dzi al-rūh (tanpa makanan hewani)
  • Tidak pulang selama 3 tahun
  • Ziarah makam ulama dan auliya
  • Selalu menjaga takbiratul ihram bersama imam selama 3 tahun
  • Menjadi khodim ndalem para guru
Riyadhah ini membentuk kedalaman spiritual KH. Hannan sebagai ulama hikmah dan ahli tasawuf.

Karya tulis & warisan keilmuan

  • Salah satu karya/antologi wirid yang sering dikaitkan dengan tradisi beliau adalah kitab Sullam al-Futūḥāt (antologi wirid dan amalan). Karya-karya ini dipakai dalam ijazah dan praktik spiritual pesantren. 
  • Kajian akademik modern mempelajari ajaran beliau dalam konteks neo-sufisme dan implementasi tazkiyat an-nafs di pesantren. Hal ini menunjukkan adanya minat penelitian hingga 2024–2025. 

Gaya pengajaran & pengaruh sosial

KH. Hannan dikenal sebagai “kiai tabib” dalam arti ia memberikan pembinaan spiritual sekaligus praktik-praktik manajemen ruhiyyah (wirid, ijazah). Tradisi laku dan petuahnya populer di antara santri dan jamaah; beberapa kalimat singkatnya (kalam hikmah) tersebar luas di media sosial santri dan akun pesantren. 

Guru-Guru KH. Abdul Hannan Ma’shum

Beberapa guru besar beliau:

  • KH. Ahmadi (Kencong)
  • KH. Zamroji (Kencong)
  • KH. Mahrus Ali (Lirboyo)
  • KH. Maimun Zubair (Sarang)
  • KH. Muslih (Mranggen)
  • KH. Jamaluddin (Batokan)
  • KH. Jauhari Umar (Pasuruan)
  • Kyai Dimyati (Kaliwungu)

Keteladanan KH. Abdul Hannan Ma’shum

Nilai-nilai yang sangat tampak dari beliau:

  • Zuhud dan sederhana
  • Mandiri dalam ekonomi
  • Tawadhu’ luar biasa
  • Sabar dan tidak pernah marah
  • Rapi dan bersih
  • Teguh memegang prinsip
  • Istiqamah hingga detail langkah kaki ke masjid

Kutipan wawancara / ceramah terbaru (2024–2025) 

Berikut kutipan langsung yang bersumber dari rekaman ceramah / unggahan resmi pesantren atau kanal video (link sumber disertakan). Anda boleh gunakan kutipan ini dalam publikasi selama mencantumkan sumber.

 “Jangan meniru tingkah orang yang sudah sukses; tirulah prosesnya supaya kamu bisa sukses.”

Potongan Dawuh KH. Abdul Hannan Ma’shum 

“Sering kali kita tergoda meniru gaya hidup orang sukses dari pakaiannya, mobilnya, atau cara mereka berbicara — tapi itu bukan jaminan kebaikan hati.” 

(Kutipan Video Dakwah beliau di Instagram/YouTube). 

Dari rekaman ceramah bertema Al-Qur’an dan fadilah:

“Al-Qur’an itu bagai hidangan; jangan engkau pilih-pilih—makan semuanya agar hatimu kenyang.”

 (Potongan ceramah terekam di kanal resmi pesantren). YouTube

Catatan: kutipan di atas diambil dari rekaman ceramah/unggahan publik (YouTube / akun resmi pesantren / Instagram). Jika Anda butuh transkrip lengkap per video dengan timestamp, saya bisa ambil transkrip video-per-video dan sertakan timestamp serta link sumbernya. 

Isu, kontroversi, dan kajian akademik

Beberapa praktik yang berkaitan dengan ilmu hikmah, ijazah, atau amalan-amalan tradisional di Pesantren Kwagean pernah menjadi objek penelitian dan diskusi—akademisi menelaahnya dari perspektif sosiologi agama dan epistemologi pesantren. Kajian-kajian tersebut hadir di thesis dan jurnal lokal (2023–2025). Ini wajar untuk pesantren yang punya tradisi kuat. 

Berdasarkan pengumuman dan update situs resmi pesantren, kegiatan pengajian rutin, pengumuman ijazah, madrasah, dan kegiatan kilatan masih aktif dipublikasikan. Hal ini menunjukkan pesantren tetap operasional dan aktif mengadakan kajian serta pendidikan religius. 

Foto-foto KH. Abdul Hannan Makshum





KH. Abdul Hannan Ma’shum adalah figur kiai pesantren tradisional yang memadukan pengajaran kitab kuning, tasawuf praktis, dan pengasuhan pesantren. Ia meninggalkan koleksi wirid/kitab yang dipelajari santri dan menjadi subjek penelitian akademik modern. Kutipan-kutipan ceramahnya yang sederhana tapi padat menjadi bahan rujukan dakwah di Jawa Timur.

Komentar0

Type above and press Enter to search.