Kultum Ramadhan: Nyebrang Lautan Kubur, Sudah Bawa Perahu Belum?
Bapak-bapak, Ibu-ibu, jamaah sholat Tarawih yang dirahmati Allah... Alhamdulillah malam ini kita masih bisa kumpul, masih sehat, masih bisa melangkahkan kaki ke masjid kita tercinta ini.
Bapak/Ibu, saya mau ngajak njenengan semua bayangin sebentar. Bayangkan kalau tiba-tiba kita disuruh nyebrang lautan atau sungai yang sedaaaaang banjir besar. Arusnya deras, airnya dalam dan gelap. Tapi... kita disuruh nyebrang tanpa bawa perahu. Boro-boro perahu, pelampung atau sebatang gedebog pisang pun nggak ada.
Kira-kira gimana rasanya? Pasti panik, takut, dan sudah terbayang pasti tenggelam, kan?
Nah, ngerinya nyebrang sungai banjir tanpa perahu itu, belum ada apa-apanya dibandingkan dengan nasihat dari sahabat Nabi, Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu 'anhu. Beliau dawuh begini:
مَنْ دَخَلَ الْقَبْرَ بِلَا زَادٍ، فَكَأَنَّمَا رَكِبَ الْبَحْرَ بِلَا سَفِيْنَةٍ.
"Barangsiapa masuk ke alam kubur tanpa bawa bekal (amal saleh), itu ibarat mengarungi lautan tanpa perahu."
Jamaah sekalian, alam kubur itu gelap, sepi, dan panjang waktunya. Kalau kita dipanggil Allah malam ini, tapi amal ibadah kita kosong, kita sama saja sedang menenggelamkan diri kita sendiri. Pertanyaannya: Mumpung masih hidup di desa ini, sudahkah kita merakit perahu kita?
Cara Membuat Perahu Keselamatan
Terus, gimana cara bikin perahu yang kuat? Kayunya dari apa? Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ sudah ngasih bocoran dua amalan yang jadi bahan baku perahu paling kuat. Beliau bersabda:
خَصْلَتَانِ لَا شَيْءَ أَفْضَلُ مِنْهُمَا: الإِيْمَانُ بِاللهِ، وَالنَّفْعُ لِلْمُسْلِمِيْنَ...
"Ada dua perkara yang paling utama, tidak ada yang menandinginya: (1) Iman kepada Allah, dan (2) Bermanfaat bagi orang lain..."
Bapak/Ibu, agama itu sederhana tapi dalam. Nabi nggandengkan urusan sama Allah (Iman) dengan urusan sama tetangga (Bermanfaat).
Jadi, perahu ke surga itu nggak bisa jalan kalau kita cuma rajin sholat, rajin ngaji, tapi sama tetangga pelitnya masyaallah. Atau sebaliknya, sama warga dermawan, suka gotong royong, tapi nggak pernah sholat. Dua-duanya harus jalan.
Bermanfaat buat orang lain di desa itu gampang banget. Nggak harus nunggu kaya!
- Punya panen pisang atau singkong lebih? Kasih ke tetangga sebelahnya.
- Ada warga yang sakit? Kita jenguk, kita doakan.
- Ada jalan desa berlubang? Kita ikut kerja bakti nambal jalan.
Senyum saja ke sesama warga, itu sudah amal. Itulah kayu-kayu pembuat perahu kita nanti di alam kubur.
Kisah Hikmah
Ada satu cerita nyata dari zaman dulu yang sangat menyentuh hati. Ada seorang ulama besar, namanya Abdullah bin Mubarak. Waktu beliau tidur di Mekkah setelah haji, beliau mimpi dengar dua malaikat ngobrol.
Malaikat satu nanya: "Tahun ini yang haji 600 ribu orang, ada yang diterima nggak hajinya?"
Malaikat dua jawab: "Nggak ada satupun yang diterima! Kecuali satu orang... namanya Muwaffaq, dia tukang sol sepatu di Syam (Suriah)."
Ulama ini kaget. Setelah dicari, ketemulah si Muwaffaq ini. Ditanya, "Bapak amalannya apa kok sampai hajinya mabrur, padahal bapak nggak berangkat haji?"
Muwaffaq cerita sambil nangis. Ternyata dia sudah nabung bertahun-tahun dari upah sol sepatu buat naik haji. Uangnya sudah pas. Tapi suatu hari, istrinya nyium bau masakan daging dari rumah tetangganya. Dimintalah Muwaffaq minta kuahnya sedikit ke tetangga itu.
Pas diketuk pintunya, tetangganya nangis dan bilang, "Maaf Pak Muwaffaq, daging ini halal buat anak-anak saya, tapi haram buat bapak. Anak saya sudah berhari-hari kelaparan nggak makan, jadi saya terpaksa masak bangkai hewan biar mereka nggak mati."
Hati Muwaffaq hancur. Dia lari ke rumah, diambilnya semua uang tabungan hajinya, dan dikasihkan ke tetangganya itu. Dia ikhlas nggak jadi haji demi nyelametin nyawa tetangganya.
Bapak/Ibu... Muwaffaq nggak jadi ke Mekkah. Tapi perahunya untuk di alam kubur sudah jadi sangat besar dan mewah karena dia bermanfaat untuk saudaranya.
Hati-hati Perahu Bocor
Tapi awas! Nabi juga ngingetin hal yang paling buruk, yang bisa bikin perahu kita bocor lalu tenggelam.
وَخَصْلَتَانِ لَا شَيْءَ أَخْبَثُ مِنْهُمَا: الشِّرْكُ بِاللهِ، وَالضَّرُّ لِلْمُسْلِمِيْنَ.
"Dan dua perkara yang paling buruk: (1) Syirik menyekutukan Allah, dan (2) Membahayakan/merugikan orang lain."
Hati-hati, Pak, Bu. Syirik itu bahaya. Jangan lagi percaya sama jimat-jimat atau pesugihan. Mintalah murni cuma sama Allah.
Lalu yang kedua, jangan merugikan tetangga. Ibadah kita bisa habis pahalanya kalau lisan kita suka nggunjing (gosip) aib orang, suka nyerobot batas tanah sawah orang, atau buang sampah ke kebun tetangga. Itu bikin perahu kita bocor!
Kesimpulan
Jadi, mari malam ini kita ingat 3 hal ini:
- Kita pasti mati dan masuk kubur. Jangan lupa rakit perahunya dari sekarang.
- Jaga terus iman kita, sholat kita.
- Jadilah orang yang rukun dan bermanfaat buat warga sekitar. Jangan sampai kita nyusahin atau nyakitin hati tetangga kita.
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga desa kita ini agar selalu rukun, damai, dan semoga kelak saat ajal menjemput, kita sudah membawa perahu amal yang kokoh untuk menyeberang ke surga-Nya. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

Komentar0