Bab Sabar —| Kitab Idhotun Nasyiin Syaikh Musthofa Al Ghoyalaini
Artikel ini mengupas makna sabar sebagai kekuatan jiwa yang membangun keteguhan, kejernihan hati, dan daya tahan menghadapi tekanan hidup. Dilengkapi dalil Qur’an, hadis, kisah Nabi dan sahabat, serta nasihat ulama, tulisan ini mengajak pembaca—khususnya generasi muda—untuk menemukan kembali cahaya kesabaran sebagai kunci kebahagiaan dunia dan akhirat.
1. Kesabaran sebagai Ciri Orang Berakal Sempurna
Sesungguhnya orang yang berakal sempurna ialah orang yang sabar menghadapi segala macam kesulitan, dan menghadapinya dengan hati yang tabah dan teguh. Ia tidak mudah bingung dan tidak gelisah dalam menghadapi tekanan hidup.
Hari ini, banyak pemuda mudah stres, galau, dan overthinking karena:
- tekanan tugas sekolah/kampus,
- masalah percintaan,
- pergaulan digital,
- gempuran gaya hidup (dibanding-bandingkan)
- tekanan ekonomi dan masa depan.
Kesabaran bukan hanya menahan diri, tetapi kemampuan mengatur emosi, fokus pada solusi, dan tetap tenang saat mengalami tekanan mental. Ini adalah fondasi kesehatan mental modern.
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang sabar diberi pahala tanpa batas.”(QS. Az-Zumar: 10)
وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Tidak ada pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.”(HR. Bukhari & Muslim)
Imam Al-Ghazali: “Kesabaran adalah landasan seluruh amal dan kunci kemuliaan.”
Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah berkata: “Kesabaran adalah pondasi kekuatan jiwa. Tanpanya, seorang pemuda akan hancur oleh tekanan hidup.”(Wasaya li Syabab)
Nabi Ayyub A.S – Simbol Kesabaran Sejati
Nabi Ayyub mengalami:
- kehilangan harta,
- kehilangan anak,
- penyakit kulit menahun,
- dijauhi orang banyak.
Tetapi beliau berkata: “Selama Allah memberi kesehatan pada lisanku untuk berdzikir dan hatiku untuk bersyukur, aku tidak menganggap diriku tertimpa musibah.”
Ini adalah teladan orang berakal sempurna: bukan karena tidak diuji, tapi tetap tenang di tengah badai.
2. Jiwa Orang Cerdik: Tenang & Tegas dalam Menghadapi Ujian
Jiwa orang yang cerdik selalu tenang. Ia menyingkirkan bencana dengan keteguhan hati dan tidak panik.
Fenomena hari ini:
- banyak pemuda mudah emosional di media sosial (toxic, mudah menyindir, cancel culture),
- panik ketika gagal UTBK, gagal ujian, gagal cinta,
- cepat menyerah ketika kehilangan pekerjaan atau tidak diterima di kampus impian.
- Padahal ketenangan adalah modal ketangguhan.
وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Bersabarlah. Dan kesabaranmu itu hanyalah dengan pertolongan Allah.”(QS. An-Nahl: 127)
Ibnu Qayyim: “Kalau hati tenang, akal akan berfungsi sempurna.”
Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad berkata: “Kesabaran adalah tameng seorang mukmin dalam menghadapi badai kehidupan.”(An-Nashaih ad-Diniyyah)
Kesabaran Rasulullah SAW di Thaif
Ketika Rasulullah ﷺ berdakwah ke Thaif, beliau:
- dicaci maki,
- dilempari batu,
- disakiti hingga berdarah.
Malaikat menawarkan: “Jika engkau mau, aku akan menimpakan gunung kepada mereka.”
Tapi Nabi ﷺ menjawab: “Aku berharap dari keturunan mereka lahir orang yang beribadah kepada Allah.”
Inilah ketenangan dan kesabaran tertinggi—membalas keburukan dengan doa.
3. Jiwa Orang Bodoh: Mudah Panik dan Hilang Arah
Adapun jiwa orang bodoh selalu bingung setiap kali menghadapi kesulitan, meski kecil. Ia merasa tidak mampu keluar dari masalah.
Inilah fenomena pemuda zaman digital:
- gampang menyerah ketika akun IG tidak trending,
- stres karena komentar negatif,
- panik ketika kehilangan follower,
- cemas karena pergaulan toxic di TikTok,
- merasa gagal hanya karena tidak seperti “standar kehidupan” di media sosial.
Kepanikan ini muncul karena kurangnya daya sabar dan tidak dilatih menghadapi realita secara sehat.
إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا
“Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah.”(QS. Al-Ma’arij: 20)
Imam Ibn Atho’illah As-Sakandari: “Tidak ada musibah yang lebih berat daripada hati yang tak stabil dan jiwa yang mudah panik.” (Al-Hikam)
Keteguhan Bilal bin Rabah
Bilal disiksa:
- ditindih batu besar,
- dijemur di padang pasir,
- dicambuk.
Tapi beliau tetap berkata: “Aḥad… Aḥad…” (Allah Maha Esa)
Bagi orang bodoh, ujian kecil saja sudah goyah. Bagi Bilal, keteguhan adalah bukti kedalaman iman.
4. Generasi Muda: Latih Diri untuk Sabar & Teguh
Wahai generasi muda, jadilah kalian berjiwa cerdik dan sabar; membiasakan diri melakukan kebaikan, menjauhi kejelekan, dan menegakkan sifat laki-laki yang mulia.
Di era sekarang:
- godaan maksiat digital sangat besar (konten negatif, pornografi, game tanpa batas),
- godaan hidup instan (viral cepat, kaya cepat),
- mental pemuda rapuh karena tidak dilatih sabar menghadapi proses.
- Padahal semua keberhasilan itu proses panjang, bukan instant result.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
“Mintalah pertolongan dengan sabar dan salat.”(QS. Al-Baqarah: 153)
إِنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ
“Pertolongan Allah itu bersama kesabaran.”(HR. Ahmad)
Imam Asy-Syafi’i: “Kemuliaan butuh kesabaran. Hasil besar hanya dimiliki oleh orang yang tahan proses.”
Syaikh Ali Jaber: “Pemuda yang tidak sabar dalam proses, ia tidak akan kuat menerima amanah besar dari Allah.”
Nabi Yusuf A.S – Sabar terhadap Godaan & Proses
Nabi Yusuf:
- dilempar ke sumur,
- dijual sebagai budak,
- digoda wanita bangsawan,
- dipenjara tanpa kesalahan.
Tapi beliau tetap sabar, dan Allah mengangkatnya menjadi pemimpin negara.
Pelajarannya: masa depan yang cerah butuh kesabaran panjang, bukan viral instan.
5. Kesabaran Mengangkat Derajat Manusia dari Hidup Rendah ke Moral Tinggi
Dengan sabar, seseorang meninggalkan pola hidup rendah seperti binatang, menuju kehidupan moral yang tinggi.
Era digital membuat sebagian pemuda:
- hidup tanpa arah,
- mengikuti hawa nafsu,
- kecanduan game, rokok, atau pergaulan bebas,
- hidup hanya mengutamakan kesenangan sesaat.
Kesabaran adalah penjaga moral, sehingga manusia tidak terjebak dalam gaya hidup hedon.
أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ
“Mereka seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat.”(QS. Al-A’raf: 179)
Umar bin Abdul Aziz – Kesabaran dalam Zuhud & Kepemimpinan
Saat menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz:
- hidup sangat sederhana,
- tidur sedikit,
- selalu menangis karena takut amanah.
Ia berkata: “Aku tidak mampu memuaskan hawa nafsuku, tetapi aku mampu menahannya.”
Inilah sabar yang mengangkat derajat ke puncak kemuliaan.
6. Balasan Allah bagi Hamba yang Sabar
Allah memberi balasan besar kepada orang yang sabar mendidik jiwanya dan mengangkat derajat mereka seperti orang yang mendapat hidayah.
Setiap pemuda yang sabar:
- memperbaiki diri,
- mengontrol emosi,
- menjaga pergaulan,
- belajar dengan konsisten,
- memproses masa depan dengan tekun,
- adalah pemuda yang akan diberi masa depan cerah oleh Allah.
وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
“Allah mencintai orang-orang yang sabar.”(QS. Ali Imran: 146)
Imam Ahmad bin Hanbal – Sabar dalam Fitnah Khalq al-Qur’an
Imam Ahmad dicambuk, dipenjara, dan dipaksa mengakui bahwa Al-Qur’an makhluk. Beliau menolak dengan penuh kesabaran, hingga berkata: “Tidak ada jalan keselamatan kecuali sabar.” Karena kesabarannya, Allah angkat derajatnya menjadi imam besar umat Islam.
7. Bersabar: Jalan Kebahagiaan Dunia–Akhirat
Saya menyerukan kepada kalian semua, hendaklah bersabar dalam mendidik jiwa, karena kesabaran adalah sebab kebahagiaan dunia dan akhirat.
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”(QS. Al-Baqarah: 155)
مَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ
“Siapa yang berusaha bersabar, Allah akan menjadikannya mampu bersabar.”(HR. Bukhari)
Umar bin Khattab: “Kami dapati bahwa kehidupan terbaik adalah dengan kesabaran.”
Prof. Quraish Shihab: “Kesabaran bukan pasrah tanpa usaha, tetapi keteguhan menghadapi ujian dan tetap berada di jalan yang benar.”
Kesabaran Khadijah R.A – Pendukung Utama Dakwah
Saat Nabi baru menerima wahyu dan merasa takut, Khadijah-lah yang menenangkan beliau.
Khadijah berkata: “Tenanglah wahai Muhammad. Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu.”
Kesabaran dan keteguhan Khadijah menjadi sebab kuatnya dakwah Islam pada fase awal.
Penutup
Sabar adalah kekuatan jiwa yang membentuk keteguhan, ketenangan, dan kematangan seseorang dalam menghadapi ujian hidup. Ia bukan sekadar menahan diri, tetapi kemampuan menjaga hati tetap kuat, akal tetap jernih, dan langkah tetap tegar di tengah tekanan.
Al-Qur’an menegaskan bahwa orang sabar mendapat pahala tanpa batas dan dicintai Allah, sedangkan hadis menegaskan bahwa karunia terbesar yang Allah berikan kepada hamba-Nya adalah kesabaran. Para ulama seperti Al-Ghazali, Ibn Qayyim, dan Imam Asy-Syafi’i sepakat bahwa sabar adalah kunci seluruh kebaikan dan pondasi kemuliaan.
Melalui kisah-kisah keteladanan—Nabi Ayyub dengan kesabaran atas musibah, Rasulullah di Thaif, Bilal dalam siksaan, Yusuf dalam godaan, hingga Umar bin Abdul Aziz dan Imam Ahmad dalam perjuangan—terlihat bahwa sabar bukan sifat orang lemah, melainkan tanda kekuatan iman dan kejernihan akal.
Bagi pemuda masa kini, sabar sangat relevan. Di tengah stres, tekanan sosial, tuntutan hidup, gempuran media digital, dan godaan instan, kesabaran menjadi penjaga mental, penenang emosi, penguat karakter, dan penuntun pada keputusan yang benar. Pemuda yang sabar akan memiliki ketangguhan, fokus, kecerdasan emosional, dan keteguhan moral yang mengantarkannya pada masa depan cerah.
Pada akhirnya, sabar adalah pondasi kemenangan. Dengan sabar, manusia naik dari hidup yang rendah menuju akhlak yang mulia. Dengan sabar, Allah mengangkat derajat, membuka pertolongan, dan memberikan kebahagiaan dunia–akhirat. Dan siapa yang melatih diri untuk bersabar, Allah sendiri yang akan menjadikannya mampu bersabar.
Sabar itu pahit di awal, tapi manisnya tak tertandingi.
Sabar itu berat, tapi cahayanya menerangi hidup.
Dan setiap kesabaran yang dijaga—Allah hitung tanpa batas.

Komentar0