TfC0Tpd7Tpd5GUC9TfA0BUr7BY==

Ceramah: "The Power of Kulino: Menjemput Husnul Khotimah dengan Kebiasaan"

"The Power of Kulino: Menjemput Husnul Khotimah dengan Kebiasaan"


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, wash-sholatu was-salamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man walah. Amma ba'du.

Ibu-ibu Muslimat yang wajahnya glowing dunia akhirat, insyaallah.

Sehat sedanten, Bu? Alhamdulillah. Saya lihat Ibu-ibu hari ini cerah-cerah sekali, jilbabnya rapi, senyumnya manis, bedaknya rata. Ini tanda-tanda penduduk surga, aamiin!

Sebelum masuk materi, saya punya pantun dulu buat Ibu-ibu:

  • Beli santan dimasak dengan teri,
  • Baunya harum bikin tetangga iri.
  • Mari kita ngaji tentang bekal mati,
  • Supaya selamat dan tenang di dalam hati.

Satu lagi, boleh?

  • Ke pasar pagi beli daster baru,
  • Daster dipakai buat masak soto.
  • Dunia ini memang tempat yang seru,
  • Tapi ingat, akhirat itu tempat yang "nyoto" (nyata).

Hakikat Kematian (Ilmiah & Renungan)

Ibu-ibu ingkang minulyo,

Poin ngaji kita hari ini agak "ngeri-ngeri sedap". Tentang apa? Tentang Maut atau Kematian.

Secara ilmiah, kematian itu adalah berhentinya fungsi biologis. Jantung berhenti, otak berhenti. Tapi secara iman, kematian itu pintu. Pintu untuk bertemu Kekasih sejati kita, Allah SWT.

Masalahnya, Bu, kematian itu misterius. Dia tidak pakai kulo nuwun.

Matinya orang itu tidak memandang usia.

  • Yang tua mati? Wajar.
  • Yang muda mati? Banyak.
  • Yang sakit mati? Sering.
  • Yang sehat walafiat, habis senam pagi, makan bubur ayam, tiba-tiba "mak bles"? Ada juga.

Jadi rumus mati itu bukan Sebab -> Akibat, tapi Ajal -> Tiba.

Orang Jawa punya ular-ular (pepatah) yang sangat dalam:

"Urip iku mung mampir ngombe."

(Hidup itu cuma sekadar mampir minum).

Artinya apa? Sebentar banget. Jangan sampai waktu kita yang cuma "sekali tegukan" ini isinya cuma ngomel, ghibah, atau scrolling TikTok sampai lupa waktu. Sayang, Bu.

Inti Kajian: "Kulino" Menentukan Ending (Husnul Khotimah)

Nah, pertanyaannya: Bagaimana supaya kita mati dalam keadaan Husnul Khotimah (akhir yang baik)? Jawabannya satu kata: KEBIASAAN atau bahasa Jawanya "KULINO".

Ada kaidah masyhur di kalangan ulama yang berbunyi:

مَنْ عَاشَ عَلَى شَيْءٍ مَاتَ عَلَيْهِ

Artinya: "Barangsiapa yang hidup di atas suatu kebiasaan, maka ia akan mati di atas kebiasaan tersebut."

Ini ilmiah lho, Bu. Dalam psikologi ada yang namanya subconscious reflex (refleks alam bawah sadar).

Ibu-ibu pernah kaget?

Kalau orang yang bibirnya basah dengan zikir, pas kesandung, pas kaget, yang keluar apa?

"Astaghfirullah!" atau "Innalillahi!" atau "Allahu Akbar!"

Tapi, mohon maaf... kalau orang yang biasa misuh, biasa ngomong kotor, pas kesandung yang keluar apa?

Nama-nama penghuni kebun binatang keluar semua. "Jangkrik!", "Kecoa!", "Wedhus!".

Bayangkan, Bu. Malaikat Izrail datang mau cabut nyawa, kita kaget, yang keluar malah "Jangkrik!". Apa enggak malu sama Malaikat?

Rasulullah SAW mempertegas dalam hadis Riwayat Muslim:

يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ

Artinya: "Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan kondisi saat ia meninggal."

Jadi, Witing Husnul Khotimah Jalaran Soko Kulino Ibadah.

(Awal mula husnul khotimah itu karena terbiasa ibadah).

Jangan berharap nanti pas sakaratul maut bisa mendadak sholeh kalau hari-harinya tidak dilatih. Itu seperti anak sekolah yang nggak pernah belajar, pas ujian nasional berharap dapat nilai 100. Mustahil, Bu. Sistem SKS (Sistem Kebut Semalam) tidak berlaku di hadapan Malaikat Izrail.

Solusi Praktis: Rumus "Dipaksa Jadi Biasa"

Terus caranya gimana, Ustadz? Hati saya masih keras, ibadah masih males-malesan.

Tenang, Bu. Semua butuh proses.

Ingat rumus ini untuk membangun kebiasaan (Istiqomah):

DIPAKSA -> TERPAKSA -> BISA -> BIASA -> NIKMAT.

  • Dipaksa: Awalnya memang harus dipaksa. Sholat Dhuha, paksa! Baca Quran, paksa!
  • Terpaksa: Awalnya ngeluh, "Duh berat banget ya". Nggak apa-apa, lanjut terus.
  • Bisa: Lama-lama jadi ringan.
  • Biasa: Mulai jadi Kulino.
  • Nikmat/Budaya: Kalau nggak dikerjakan, rasanya ada yang hilang. Seperti Ibu kalau nggak pakai lipstik mau kondangan, rasanya pucat kan? Nah, ibadah harus sampai level itu. Kalau nggak sholat sunnah, rasanya ada yang kurang.

Materi Tambahan: "Rajab: Pemanasan Sebelum Panen Raya"

Ibu-ibu yang dirahmati Allah, mumpung kita masih diberi umur panjang, dan kebetulan sekarang kita berada di bulan/menjelang bulan Rajab (sesuaikan waktu), ada satu hal penting yang harus kita bahas.

Ada pepatah Jawa bilang: "Sedyo payung sak durunge udan." (Sedia payung sebelum hujan).

Nah, kalau dalam ilmu spiritual, pepatahnya ganti: "Sedyo amal sak durunge Ramadan."

1. Rajab itu Bulan "Menanam" (Logika Ilmiah)

Ibu-ibu, seringkali kita merasa kaget pas masuk bulan Ramadan.

Hari pertama puasa lemas, baca Quran malas, Tarawih hari ke-5 saf sudah mulai maju (bukan maju semangatnya, tapi maju karena jamaahnya berkurang, heuheu).

Kenapa bisa begitu? Karena Kaget. Mesinnya belum dipanaskan.

Para Ulama kita, seperti Imam Abu Bakr al-Balkhi, punya rumus ilmiah yang luar biasa tentang siklus ibadah. Beliau berkata:

"Bulan Rajab adalah bulan menanam benih. Bulan Sya'ban adalah bulan menyiram tanaman. Dan bulan Ramadan adalah bulan memanen hasil."

Logis kan, Bu?

Mana mungkin kita bisa panen raya (pahala melimpah) di Ramadan, kalau di Rajab kita tidak mulai menanam?

Mana mungkin kita bisa khatam Quran berkali-kali di Ramadan, kalau di Rajab mushaf-nya masih dijadikan "tatakan" obat nyamuk?

Jadi, Rajab itu Training Center (Pusat Latihan).

Kita mulai "Kulino" (biasakan) puasa sunnah dan baca Quran di sini. Biar nanti pas Ramadan, mesin kita sudah matic, langsung gas pol!

2. Dalil Kemuliaan Rajab

Rajab ini bukan bulan sembarangan, Bu. Ini adalah salah satu dari 4 Bulan Haram (Bulan Suci).

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ}

Artinya: "Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan... di antaranya ada empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu..." (QS. At-Taubah: 36).

Apa pesan ayat ini?

Di bulan Rajab, dosanya dilipatgandakan, tapi pahalanya juga dilipatgandakan.

Makanya, hati-hati Bu. Kalau mau ghibah (ngomongin orang) di bulan Rajab, ditahan dulu.

"Eh Jeng, tahu nggak si anu..."

"Sstt! Jangan sekarang, ini Rajab. Dosanya mahal, nggak kuat bayarnya!"

3. Ceklis "Hutang Puasa" (Bagian Lucu)

Nah, ngomong-ngomong soal Rajab, biasanya ini bulan "kepanikan nasional" bagi Ibu-ibu. Kenapa? Karena ingat hutang puasa tahun lalu!

Ayo ngaku... Siapa yang hutang puasanya belum lunas?

Biasanya Ibu-ibu ini sakti. Hutang puasa Syawal, dibayar pas injury time bulan Sya'ban.

Alasannya: "Biar sekalian pemanasan Ustadz."

Padahal aslinya: "Lupa kalau punya utang."

Mumpung masih Rajab, ayo Qadha (bayar hutang puasa) dilunasi.

Niatnya puasa Qadha (wajib), tapi kalau dikerjakan di hari Senin/Kamis atau Ayyamul Bidh di bulan Rajab, insyaallah dapat bonus pahala sunnahnya juga. Ibarat beli panci, gratis sutil. Enak to?

4. Amalan & Doa Rajab

Terakhir, mari kita perbanyak istighfar. Karena Rajab sering disebut Syahrul Istighfar (Bulan memohon ampun). Kita bersihkan hati kita supaya siap menampung cahaya Ramadan.

Dan jangan lupa doa legendaris yang sering diajarkan Kyai-kyai kita (meskipun hadisnya diperbincangkan ulama, tapi sebagai doa fadhail amal, ini sangat baik dibaca):

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Allāhumma bārik lanā fī Rajaba wa Sya‘bāna wa ballighnā Ramaḍān.

Artinya: "Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, serta sampaikanlah usia kami hingga bulan Ramadan."

  • Ke pasar baru beli kebaya,
  • Dipakai buat acara lamaran.
  • Bulan Rajab bulan mulia,
  • Ayo lunasin hutang puasa sebelum Lebaran.
  • (Gimana Bu, kesindir nggak? Hehe.. Semangat nggih!)

5. Kesimpulan & Penutup

Ibu-ibu yang dirahmati Allah, mari kita simpulkan "oleh-oleh" pengajian hari ini:

  1. Hormati Ulama: Ikuti kiai/ustadz yang sanad ilmunya jelas, yang menyejukkan, bukan yang memprovokasi. Ulama itu pewaris Nabi, "dokternya" hati kita.
  2. Jaga Hati: Ibadah jangan cuma di lisan. Zikir itu harus tembus ke hati.
  3. Bangun Kebiasaan Baik: Mulai hari ini, ganti kebiasaan buruk dengan yang baik. Ganti ghibah dengan tilawah. Ganti scrolling dengan dzikir morning.
  4. Manfaatkan Momentum (Start di Bulan Rajab) Tidak ada waktu yang lebih baik untuk memulai perubahan selain Sekarang, apalagi di bulan mulia (Rajab).

Mari kita tutup dengan doa, semoga Allah mematikan kita dalam keadaan terbaik, sesuai dengan kebiasaan baik yang kita tanam.

Ayo Ibu-ibu, kita aminkan doa ini bersama-sama dengan khusyuk:

Bismillahirrahmanirrahim...

Ya Allah, kami manusia lemah yang penuh dosa. Kami ingin pulang kepada-Mu dengan wajah tersenyum.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَارِنَا آخِرَهُ وَخَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِمَهُ وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ

Artinya: "Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umur kami adalah akhirnya, sebaik-baik amal kami adalah penutupnya, dan sebaik-baik hari kami adalah hari saat kami berjumpa dengan-Mu."

Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Sebagai penutup, Ustadz punya pantun terakhir:

  • Burung dara burung merpati,
  • Terbang tinggi hinggap di jati.
  • Ibu-ibu Muslimat yang baik hati,
  • Semoga semua Husnul Khotimah saat mati.
  • Kupat kecemplung santen,
  • Sedoyo lepat nyuwun pangapunten.

Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Tharieq.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Komentar0

Type above and press Enter to search.