TfC0Tpd7Tpd5GUC9TfA0BUr7BY==

GUS IQDAM: “Mensyukuri Nikmat Allah & Menjalani Hidup dengan Tawakal yang Benar”

GUS IQDAM: “Mensyukuri Nikmat Allah & Menjalani Hidup dengan Tawakal yang Benar”

 

Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Sering kali manusia merasa kuat karena harta, pekerjaan, kemampuan, jabatan, atau usaha yang ia lakukan. Padahal sesungguhnya, setiap nikmat yang kita rasakan—besar ataupun kecil—semuanya murni datang dari Allah. Tanpa izin Allah, tak akan bergerak satu pun sebab, tak akan terwujud satu pun hasil.
 

1. Semua Nikmat Datangnya dari Allah

﴿ وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ﴾
“Apa pun nikmat yang ada pada kalian, semuanya berasal dari Allah.”
Apa pun yang kita miliki—kesehatan, keluarga, masjid, rezeki, ketenangan—semuanya pemberian Allah. Menyadari ini adalah pondasi syukur.
 

2. Usaha Tidak Akan Memberi Hasil Tanpa Izin Allah perkataan Ibnul Qayyim:

الأسبابُ لا تُعْطِي شيئًا إلا بإذن الله
“Segala sebab tidak memberikan apa pun kecuali dengan izin Allah.”

Artinya, bekerja itu wajib, berusaha itu perintah. Tapi hasil tetap milik Allah. Ada yang kerja keras tapi rezekinya pas-pasan; ada yang tampak sederhana namun hidupnya cukup. Karena sebab itu hanya sarana, bukan penentu hasil.

 3. Syukur dan Tingkatannya Menurut Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali menjelaskan tiga tingkatan syukur:

  1. Ma’rifatun-ni’mah — menyadari nikmat itu dari Allah.
  2. Farhu bihā — bergembira dan merasa senang dengan nikmat tersebut.
  3. Isti‘mālun-ni’mah fīmā yuḥibbullāh — menggunakan nikmat pada jalan yang Allah cintai.

Syukur bukan hanya ucapan “Alhamdulillah”, tapi cara mempergunakan nikmat dengan benar. 

4. Bergembira dengan Nikmat adalah Bagian dari Kesempurnaan SyukurIbnul Qayyim

الْفَرَحُ بِالنِّعْمَةِ مِنْ تَمَامِ شُكْرِهَا
“Bergembira atas nikmat adalah bagian dari kesempurnaan syukur.”

Artinya, bahagia itu ibadah. Gembira karena mendapat rezeki, sehat, anak sholeh, masjid berdiri megah—itu bukan duniawi, tapi bagian dari syukur. 

5. Dzikir Lailahaillallah: Pondasi Tauhid & Ketenangan

Gus Iqdam menuntun jamaah untuk berdzikir:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّه الْمَلِكُ الْحَقُّ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّه

6. Kematian: Perjalanan Tanpa Bisa Kembali

Kita sering lupa bahwa hidup ini singkat. Allah mengingatkan:

حَتّٰٓى اِذَا جَآءَ اَحَدَهُمُ الۡمَوۡتُ قَالَ رَبِّ ارۡجِعُوۡنِۙ‏ ٩٩
Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, "Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia

Saat nyawa keluar, tidak ada lagi pulang, tidak ada mengulang. Kubur bukan dongeng, pertanyaan malaikat nyata. 

7. Neraka Sangat Mengerikan

Allah menggambarkan azab:

﴿ كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا ﴾
“Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain agar mereka merasakan azab.”
Ayat ini seharusnya membuat hati bergetar dan menahan kita dari maksiat.

8. Kebahagiaan Akhirat bagi Orang yang Beriman

Sebaliknya, Allah menjanjikan kebahagiaan bagi orang yang taat:

﴿ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ﴾
“Kami akan memberi mereka kehidupan yang baik.”

﴿ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ ﴾
“Merekalah yang mendapat balasan akhirat yang baik.”

Inilah harapan kita: selamat dunia akhirat, husnul khatimah. 

10. Keseimbangan Usaha dan Doa

Gus Iqdam menekankan: bekerja saja tidak cukup, ngaji saja tidak cukup — harus seimbang.

Rasulullah bersabda:

«اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ»
“Ikatlah untamu, lalu bertawakallah.”

Ayat:﴿ فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ ﴾

Kita berusaha maksimal, tapi menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah.

11. Rezeki Milik Allah, Usaha Hanya Jalan

Allah berfirman:

﴿ وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ ﴾
“Di langit telah ditetapkan rezekimu.”
(QS. Adz-Dzariyat: 22)

Nabi bersabda:

«لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ»
“Allah memberi rezeki seperti burung yang pergi pagi lapar, pulang sore kenyang.”

Artinya: yang bikin kenyang itu Allah, bukan kerja keras semata.

Penutup

Jamaah yang dirahmati Allah,
Marilah kita:

  • menyadari semua nikmat dari Allah,
  • bersyukur dengan hati yang gembira,
  • berusaha seimbang dengan doa,
  • memperbanyak dzikir,
  • mempersiapkan diri menghadapi kematian,
  • menjauhi maksiat karena neraka itu nyata,
  • memakmurkan masjid,
  • dan memperbaiki tawakal.

Semoga Allah memberi kita rezeki yang berkah, hati yang tenang, dan akhir hidup yang indah.

Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Komentar0

Type above and press Enter to search.