TfC0Tpd7Tpd5GUC9TfA0BUr7BY==

Tausiyah: Menyelami Hakikat Bencana di Akhir Zaman: Antara Ujian Cinta, Adzab, dan Jebakan Istidraj

Menyelami Hakikat Bencana di Akhir Zaman: Antara Ujian Cinta, Adzab, dan Jebakan Istidraj

I. Muqaddimah (Pembukaan)

Memulai dengan Hamdalah, Shalawat, dan wasiat takwa.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Hari ini kita menyaksikan bumi yang tidak sedang baik-baik saja. Bencana silih berganti, dari banjir, gempa, hingga wabah. Fenomena ini sering membuat logika manusia goyah.

Kita melihat paradoks yang membingungkan: Ada hamba yang ahli maksiat, lupa pada Allah, namun rezekinya lancar dan hidupnya seolah tanpa beban. Sebaliknya, ada hamba yang ahli ibadah, senantiasa "nyantri" dan mendekat pada Allah, namun justru dihimpit kesulitan ekonomi dan diuji dengan musibah fisik.

Sebagai penuntut ilmu, kita tidak boleh memandang kejadian ini dengan "mata awam", tetapi harus dengan "mata iman" dan kacamata syariat.

II. Membedah Hakikat Musibah: Adzab atau Sayang?

Secara kaidah umum (Qawaid Fiqhiyyah kehidupan), bencana memang seringkali akibat dari tangan manusia sendiri. Allah berfirman dalam QS. Ar-Rum: 41:

{ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ}

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

Namun, kita harus hati-hati dalam memvonis.

  1. Bagi Pendosa, musibah adalah Adzab (Hukuman) atau Peringatan.
  2. Bagi Orang Mukmin, musibah adalah Kaffarah (Penebus Dosa) dan Raf'u Darajat (Peninggi Derajat).

III. Fenomena Terbalik: Istidraj vs Ibtila'

Jamaah sekalian, inilah inti persoalan akhir zaman yang harus kita waspadai.

1. Bahaya Istidraj (Kenikmatan yang Menipu)

Jangan silau melihat orang fasik yang rezekinya lancar. Dalam ilmu tasawuf dan hadis, ini disebut Istidraj. Allah membiarkan mereka dalam kenyamanan agar mereka semakin jauh, lalu diazab dengan tiba-tiba.

Rasulullah SAW bersabda:

$$\text{إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنْ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ}

"Bila engkau melihat Allah memberi kepada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan)." (HR. Ahmad, no. 17311, dishahihkan Al-Albani)

Kemudian Rasulullah membaca QS. Al-An'am: 44:

"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong..."

2. Kemuliaan Ibtila' (Ujian bagi Orang Sholeh)

Sebaliknya, jika kita sudah taat tapi hidup masih sulit, ingatlah bahwa para Nabi adalah orang yang paling keras ujiannya.

{أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ}

"Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian yang semisal mereka, dan yang semisal mereka." (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah)

IV. Solusi: Mentalitas "Santri" di Akhir Zaman

Lantas, bagaimana kita bersikap di tengah fitnah akhir zaman ini? Jawabannya adalah mengadopsi karakter seorang Santri Sejati. Santri bukan hanya yang tinggal di pondok, tapi yang memiliki 3 sifat utama:

  1. Berilmu (Al-Ilmu): Tidak mudah terprovokasi isu dan tidak salah sangka pada takdir Allah. Ia paham Fikih Bencana.
  2. Beradab (Al-Adab): Tetap sopan kepada Allah saat diuji (ridha) dan sopan kepada sesama manusia (tidak mencaci pendosa yang kena musibah).
  3. Saling Mengingatkan (Tawashi): Amar ma'ruf nahi munkar dengan cara yang santun.

Allah mengingatkan kunci keselamatan dari kerugian di QS. Al-Asr: 3:

$$\text{وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ}

"..dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran."

V. Hikayah (Kisah Penutup)

Sebagai ahli hikayah, sampaikanlah kisah ini dengan intonasi yang mendalam.

Ada sebuah kisah masyhur tentang Urwah bin Zubair (salah satu dari 7 Fuqaha Madinah, putra Asma binti Abu Bakar). Kisah ini adalah puncak teladan mentalitas "Santri" menghadapi musibah.

Suatu hari, Urwah pergi mengunjungi Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik. Di perjalanan, musibah besar terjadi. Kakinya terkena penyakit akalah (gangrene) yang membusuk dan harus diamputasi agar tidak menjalar ke tubuh.

Di hari yang sama, ketika kakinya sedang digergaji (tanpa bius, hanya dengan zikir), datang kabar lain: Putra kesayangannya, Muhammad, jatuh dari atap istana (riwayat lain: ditendang kuda) dan meninggal dunia.1

Bayangkan, Jamaah! Kehilangan anggota tubuh dan kehilangan anak di hari yang sama.2

Apakah Urwah mengeluh? Apakah ia bertanya "Ya Allah, aku ini ulama, aku ahli 3ibadah, kenapa Engkau siksa aku?"

TIDAK.

Setelah siuman, Urwah melihat kakinya yang putus dan berkata:

"Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Jika Engkau mengambil, Engkau juga yang telah memberi. Jika Engkau menguji, Engkau juga yang telah memberi kesehatan (selama ini)."

Lalu ia bermunajat:

"Ya Allah, aku memiliki empat anggota gerak (2 tangan, 2 kaki), Engkau ambil satu dan Engkau sisakan tiga. Aku memiliki tujuh orang anak, Engkau ambil satu dan Engkau sisakan enam. Maka bagi-Mu segala puji atas apa yang Engkau sisakan, dan bagi-Mu segala puji atas apa yang Engkau ambil." (Sumber: Siyar A'lam An-Nubala, Imam Adz-Dzahabi).

Ibrah (Pelajaran):

Inilah sikap ahli ilmu. Ia fokus pada apa yang masih Allah berikan (Syukur), bukan hanya pada apa yang Allah ambil (Sabar). Inilah mentalitas santri yang kita butuhkan di akhir zaman.

Hikayah Alternatif: Nabi Isa a.s. dan Ahli Ibadah yang Hancur Fisiknya

(Sumber: Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali, Bab Sabar dan Syukur)

1. Narasi Kisah

Dikisahkan dalam Ihya, suatu hari Nabi Isa Alaihissalam berjalan melewati seorang laki-laki yang kondisinya sangat mengenaskan. Orang tersebut buta matanya, lumpuh kakinya, dan tubuhnya dipenuhi penyakit kusta (kudis parah) hingga dagingnya tampak rusak.

Namun, di tengah penderitaan fisik yang luar biasa itu, lisan orang tersebut tidak berhenti berucap dengan lantang:

"Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari musibah yang menimpa banyak sekali manusia."

Nabi Isa a.s. merasa heran. Secara logika manusiawi, orang ini sudah terkena hampir semua jenis musibah fisik. Maka Nabi Isa a.s. bertanya:

"Wahai Fulan, musibah apa yang telah diselamatkan darimu? Demi Allah, aku melihat hampir semua musibah telah menimpamu (buta, lumpuh, kusta)."

Orang tersebut menjawab dengan jawaban seorang yang memiliki mentalitas "Santri Sejati"—berilmu dan makrifat:

"Wahai Ruhullah (Nabi Isa), sesungguhnya Allah telah menyelamatkan aku dari musibah terbesar, yaitu Dia tidak menjadikan hatiku lalai dari mengingat-Nya, sebagaimana Dia membiarkan hati banyak orang lain lalai dan lupa kepada-Nya. Dan Dia memberiku lisan yang selalu basah menyebut nama-Nya."

Nabi Isa a.s. pun membenarkan: "Engkau benar." Lalu Nabi Isa mengusap tubuh orang tersebut, dan dengan izin Allah, ia sembuh, wajahnya menjadi tampan, dan ia kemudian menjadi sahabat setia Nabi Isa dalam beribadah.

2. Teks/Dalil Penguat (Kutipan Inti)

Anda bisa mengutip ucapan syukur orang tersebut dalam Bahasa Arab untuk memperkuat kesan tsaqofah (wawasan) Islam:

$$\text{الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلَى بِهِ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ}

(Alhamdulillahilladzi 'aafani mimma ibtalaa bihi katsiran minan naas)

Dan poin kuncinya adalah pemahaman tentang Musibah Agama vs Musibah Dunia. Imam Al-Ghazali sering menekankan doa yang juga diajarkan Rasulullah SAW:

$$\text{وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا}

"Dan janganlah Engkau jadikan musibah kami menimpa AGAMA kami." (HR. Tirmidzi)

3. Relevansi dengan Tema Dakwah Anda (Ibrah)

Kisah ini adalah "senjata" untuk mematahkan logika materialistis jamaah di akhir zaman:

1. Definisi Bencana yang Sebenarnya: Bencana bukanlah hancurnya rumah atau sakitnya badan (seperti orang dalam kisah di atas). Bencana yang sesungguhnya (The Real Disaster) adalah ketika Allah mencabut nikmat Iman dan Zikir dari hati kita, meskipun harta kita melimpah.

2. Menjawab Istidraj: Orang-orang yang lupa Allah tapi rezekinya lancar, sesungguhnya mereka sedang terkena musibah terbesar (hati yang mati), tapi mereka tidak sadar. Sedangkan orang beriman yang diuji fisiknya, mereka sedang diselamatkan imannya.

3. Sikap Santri: Orang dalam kisah tersebut memiliki adab santri: Husnuzan billah (berbaik sangka pada Allah). Ia tidak melihat apa yang hilang (kesehatan), tapi melihat apa yang tersisa (Iman dan Lisan yang berzikir).

VI. Penutup (Khatimah)

Mari kita waspada. Jika kita diberi nikmat padahal sedang bermaksiat, takutlah itu Istidraj. Jika kita diberi musibah padahal sedang taat, tersenyumlah, itu tanda Allah sedang mengangkat derajat kita seperti para Nabi.

Jadilah seperti santri: Berilmu agar tidak tersesat, beradab agar tidak melaknat, dan saling mengingatkan agar selamat.

نَصُّ الدُّعَاءِ (Teks Doa)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ. يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيمِ سُلْطَانِكَ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَعَافِنَا وَاعْفُ عَنَّا. اللَّهُمَّ لَا تُؤَاخِذْنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيعِ سَخَطِكَ.

اللَّهُمَّ لَا تَسْتَدْرِجْنَا بِالنِّعَمِ، وَلَا تُبَاغِتْنَا بِالنِّقَمِ. وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ إِذَا أُعْطِيَ شَكَرَ، وَإِذَا ابْتُلِيَ صَبَرَ، وَإِذَا أَذْنَبَ اسْتَغْفَرَ.

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ وَطَاعَتِكَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Terjemahan (Arti)

"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, pujian yang sebanding dengan nikmat-nikmat-Nya dan menjamin tambahannya. Wahai Tuhan kami, bagi-Mu-lah segala puji, sebagaimana layak bagi keluhuran wajah-Mu dan keagungan kekuasaan-Mu. Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya."

"Ya Allah, ampunilah kami, rahmatilah kami, selamatkanlah kami, dan maafkanlah kami. Ya Allah, janganlah Engkau hukum kami karena perbuatan orang-orang yang bodoh di antara kami."

"Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan-Mu, dari berubahnya kesehatan (menjadi penyakit), dari siksa-Mu yang datang tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu."

"Ya Allah, jangan Engkau jebak kami dengan kenikmatan (Istidraj) yang membuat kami lalai, dan jangan Engkau kejutkan kami dengan siksaan. Jadikanlah kami termasuk orang yang jika diberi nikmat ia bersyukur, jika diuji musibah ia bersabar, dan jika berdosa ia segera memohon ampun."

"Ya Allah, janganlah Engkau jadikan musibah menimpa agama kami, dan jangan Engkau jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami, serta puncak dari ilmu kami. Dan jangan Engkau biarkan orang-orang yang tidak menaruh belas kasihan kepada kami menguasai kami."

"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu."

"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka."

"Semoga Allah melimpahkan rahmat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan sahabatnya. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam."

Agus Manshurudin, M.Pd. With Gemini Ai Pro

Komentar0

Type above and press Enter to search.