NASKAH CERAMAH 30 MENIT:
Dua Sayap Mukmin: Al-Haya’ (Rasa Malu) dan Al-Wara’ (Kehati-hatian)
(Merujuk Kitab Wasiyyat al-Musthofa)
MUKADIMAH
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin, washolatu wassalamu ‘alaa asyrofil ambiyaa-i wal mursaliin, sayyidina wa maulana Muhammadin, wa ‘alaa aalihi wa shohbihi ajma’iin. Amma ba’du.
Hadirin wal hadirat, jamaah majelis taklim yang dimuliakan Allah ﷻ.
Pertama-tama, mari kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah ﷻ yang telah mengumpulkan kita di majelis ilmu yang mulia ini. Shalawat serta salam senantiasa kita curahkan kepada teladan kita, baginda Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga, sahabat, dan umatnya yang istiqamah hingga akhir zaman.
Jamaah yang dirahmati Allah...
Di zaman sekarang, kita sering melihat betapa mudahnya orang melakukan maksiat secara terang-terangan. Mengapa hal itu bisa terjadi? Jawabannya sederhana, karena ada satu "rem" atau penahan dalam hati manusia yang mulai tercabut. Apa itu? Yaitu rasa malu (Al-Haya’) dan sikap kehati-hatian (Al-Wara’).
Pada kesempatan kali ini, mari kita mengkaji wasiat luar biasa dari Rasulullah ﷺ kepada menantu sekaligus sepupu beliau, Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah, yang tertulis dalam kitab Wasiyyat al-Musthofa.
BAGIAN 1: AL-HAYA' / RASA MALU
[Panduan Intonasi: Sampaikan dengan nada tenang dan mengajak merenung]
Jamaah sekalian, di dalam fashal pertama tentang rasa malu, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Sayyidina Ali:
يَا عَلِيُّ : الدِّينُ كُلُّهُ فِي الحَيَاءِ، وَهُوَ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا حَوَى وَالْبَطْنَ وَمَا وَعَى.
"Wahai Ali, agama itu seluruhnya berada pada rasa malu, yaitu engkau menjaga kepala dan apa yang ada padanya serta menjaga perut dan apa yang masuk ke dalamnya."
Perhatikan hadis ini. Rasulullah menyebut agama itu seluruhnya ada pada rasa malu. Ulama menjelaskan, apa maksud menjaga kepala? Yaitu menjaga mata kita dari tontonan yang haram, menjaga telinga dari gunjingan, dan menjaga lisan dari menyakiti orang lain. Sedangkan menjaga perut artinya jangan sampai ada satu butir nasi pun dari harta haram yang masuk ke aliran darah kita, serta menjaga syahwat kita.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin memberikan kalimat yang sangat indah:
"Al-haya' tsamratu ma'rifatil 'abdi birabbih."
Rasa malu adalah buah dari pengenalan seorang hamba kepada Tuhannya.
Artinya, kalau kita kenal Allah, tahu Allah selalu menatap kita sesuai firman-Nya di Surat Al-Alaq ayat 14:
أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى
(Tidakkah dia mengetahui bahwa Allah melihat?), maka mustahil kita berani bermaksiat.
[Panduan Intonasi: Naikkan sedikit intonasi, ceritakan kisah dengan penuh penghayatan]
Mari kita teladani kisah para pendahulu kita. Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, manusia terbaik setelah para Nabi, pernah berkata di atas mimbar: "Malu-lah kalian kepada Allah. Demi Allah, saat aku pergi ke tanah lapang sendirian untuk buang hajat, aku menutupi kepalaku dengan pakaianku karena sangat malu kepada Allah!"
Subhanallah... Padahal beliau sendirian! Tidak ada CCTV, tidak ada orang lain. Tapi beliau punya CCTV langit yang selalu menyala.
Atau kisah Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha. Beliau leluasa melepas hijab di dalam rumahnya sendiri ketika suaminya, Rasulullah ﷺ, dan ayahnya, Abu Bakar, dimakamkan di kamar tersebut. Tapi, begitu Umar bin Khattab wafat dan dimakamkan di ruangan yang sama, Aisyah selalu mengikat rapat pakaiannya. Beliau berkata, "Aku malu kepada Umar," padahal Sayyidina Umar sudah wafat! Inilah puncak Al-Haya’, jamaah sekalian.
Ingatlah sabda Nabi:
إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
"Jika engkau tidak lagi punya rasa malu, lakukanlah sesukamu!" (HR. Bukhari). Ini bukan perintah, melainkan teguran keras. Orang tanpa malu akan binasa.
BAGIAN 2: AL-WARA' / SIKAP HATI-HATI
[Panduan Intonasi: Jeda sejenak. Ambil napas, lalu lanjutkan dengan nada yang lebih tegas tentang prinsip kehati-hatian]
Hadirin rahimakumullah...
Selain rasa malu, ada benteng kedua yang diwasiatkan Rasulullah ﷺ kepada Sayyidina Ali, yaitu Al-Wara’ (sikap ekstra hati-hati terhadap dosa dan yang syubhat/samar).
Dalam riwayat ke-61 di kitab yang sama, Nabi bersabda:
وَلَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا وَرَعَ لَهُ
"Tidak ada iman (yang sempurna) bagi orang yang tidak memiliki sikap wara'."
Bahkan di hadis ke-62, ancamannya sangat menakutkan:
"Wahai Ali, barang siapa tidak memiliki sikap wara’ dari maksiat, maka perut bumi (kubur) lebih baik baginya daripada hidup di atas bumi."
Mengapa sampai separah itu? Karena wara' adalah dasar kemuliaan. Wara' itu bukan sekadar meninggalkan yang haram—itu mah kewajiban! Wara' itu, sebagaimana kata Imam Hasan Al-Basri: "Orang-orang bertakwa itu sering meninggalkan yang HALAL, karena takut terjatuh pada yang HARAM."
[Panduan Intonasi: Mulai bercerita kembali dengan tempo yang agak lambat untuk menekankan kehebatan wara' ulama salaf]
Mari kita dengarkan sebuah kisah yang menggetarkan hati dari Imam Abu Hanifah.
Suatu ketika, di kampung beliau, terdengar kabar ada seekor domba milik tetangga yang dicuri orang. Apa yang dilakukan Imam Abu Hanifah? Beliau berhenti makan daging domba. Bukan sehari, bukan sebulan, tapi tujuh tahun! Beliau bertanya kepada para ahli ternak, berapa usia maksimal domba bisa hidup? Dijawab tujuh tahun.
Maka selama 7 tahun beliau tidak menyentuh daging domba di pasar. Mengapa? Karena beliau khawatir, jangan-jangan daging yang dibelinya itu adalah potongan dari domba yang dicuri tersebut. Ya Allah... betapa jauhnya kualitas wara' kita dibandingkan beliau. Kita hari ini, boro-boro yang syubhat, yang jelas-jelas haram saja kadang masih ditabrak dengan alasan "kebutuhan ekonomi". Na'udzubillahi min dzalik.
Lihat juga Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Suatu malam beliau sedang mengerjakan dokumen negara di ruangannya. Tiba-tiba putranya masuk untuk membicarakan urusan keluarga. Seketika itu juga, Umar meniup dan mematikan lampu minyak di meja itu.
Anaknya bingung, "Wahai Ayah, kenapa lampunya dimatikan? Ruangan jadi gelap."
Umar menjawab, "Lampu ini dibeli pakai uang negara. Sementara yang mau kita bicarakan adalah urusan pribadi keluarga kita. Ayah tidak mau kelak di akhirat dituntut oleh seluruh rakyat karena memakai fasilitas negara untuk kepentingan pribadi!" Lalu beliau menyalakan lilin kecil miliknya sendiri.
Allahu Akbar! Inilah wara' sejati dalam kepemimpinan, jamaah sekalian.
KESIMPULAN & HIKMAH
[Panduan Intonasi: Sampaikan dengan nada merangkum dan mengayomi]
Jamaah sekalian yang dicintai Allah...
Dari kajian kitab Wasiyyat al-Musthofa hari ini, mari kita bawa pulang 3 pesan penting untuk diterapkan dalam keluarga kita:
- Jadikan rasa malu sebagai pakaian kehidupan. Malulah jika mata kita melihat yang dilarang, malulah jika lisan kita menyakiti hati saudara kita. Karena rasa malu tidak mendatangkan apapun kecuali kebaikan.
- Berhati-hatilah (Wara') dalam mencari rezeki. Pastikan apa yang kita bawa pulang untuk anak istri adalah rezeki yang halal dan bersih. Tinggalkan yang meragukan (syubhat).
- Iman, Malu, dan Wara' adalah satu kesatuan. Kata ulama, "Pokok dari segala kebaikan adalah rasa malu dan sikap wara'." Orang yang memiliki dua sayap ini akan terbang tinggi menuju ridha Allah dan selamat dunia hingga ke surga-Nya.
PENUTUP & DOA
Mari kita tundukkan kepala sejenak, memohon kepada Allah ﷻ agar kita senantiasa dianugerahi sifat malu dan wara'.
Bismillahirrohmanirrohim. Allahumma sholli 'alaa sayyidina Muhammad wa 'alaa aali sayyidina Muhammad.
Ya Allah, Yang Maha Menatap segala perbuatan kami... Karuniakanlah kepada kami rasa malu yang mencegah kami dari bermaksiat kepada-Mu. Tumbuhkanlah di hati kami rasa takut dan pengawasan-Mu, baik di saat kami di keramaian maupun saat kami sendirian.
Ya Allah, Yang Maha Memberi Rezeki... Bersihkanlah harta kami, jaga perut kami dan keluarga kami dari makanan yang haram dan syubhat. Jadikanlah kami hamba-Mu yang wara', yang selalu berhati-hati dalam setiap langkah dan keputusan.
Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, waqina 'adzabannar. Walhamdulillahi rabbil 'alamin.
Kurang lebihnya saya mohon maaf, kebenaran mutlak milik Allah dan kesalahan dari kelemahan saya pribadi.
Wabillahit taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Komentar0