Pentingnya Alquran di Zaman Akhir
Hadirin jamaah rahimakumullah,
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena pada bulan Ramadan yang mulia ini kita masih diberikan nikmat iman dan sehat. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan umatnya yang istiqamah hingga akhir zaman.
Pada kesempatan yang penuh berkah ini, di momen Nuzulul Quran, mari kita merenungkan satu tema penting: Pentingnya Alquran sebagai Penyelamat di Zaman Akhir.
Allah SWT berfirman tentang keagungan bulan Ramadan karena di dalamnya diturunkan Alquran, pedoman hidup yang tak lekang oleh waktu.
Hadirin, Alquran bukan sekadar kitab sejarah. Ia adalah kompas penunjuk arah, terutama di zaman akhir ini, di mana batas antara yang haq (benar) dan yang batil (salah) sering kali kabur. Allah SWT menegaskan bahwa Alquran akan selalu membimbing kepada jalan yang paling lurus:
Kita hidup di zaman akhir, zaman di mana fitnah (ujian dan kekacauan) datang bertubi-tubi seperti potongan malam yang gelap. Bagaimana kita menyelamatkan diri? Rasulullah SAW telah memberikan garansinya.
Dalil Hadis Sahih (Jaminan Tidak Akan Tersesat):
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hakim (berderajat sahih):
Dalil Hadis Tentang Fitnah:
Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA pernah meriwayatkan dari Nabi SAW bahwa akan terjadi fitnah yang besar. Ali bertanya, "Apakah jalan keluarnya wahai Rasulullah?" Beliau menjawab:
Hadirin, para ulama salaf sangat memahami bahwa kerusakan di akhir zaman hanya bisa diobati dengan kembali kepada ajaran Alquran.
Imam Malik bin Anas rahimahullah menyampaikan kaidah emas:
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya Al-Fawaid memperingatkan tentang bahaya Hajrul Quran (mengabaikan Alquran) di akhir zaman. Beliau membaginya ke dalam beberapa tingkatan:
- Tidak mau mendengar dan membacanya.
- Membacanya tapi tidak mengamalkan isinya.
- Tidak menjadikannya sebagai hakim (pemutus) dalam masalah kehidupan.
- Tidak mentadabburi (memahami) maknanya.
- Tidak menjadikannya sebagai obat (syifa) bagi penyakit hati.
Mari kita ambil hikmah dari kisah sahabat mulia, Utsman bin Affan RA. Beliau adalah sosok khalifah yang sangat lekat dengan Alquran. Di masa tuanya, beliau terus membaca Alquran hingga mushafnya basah oleh air mata. Bahkan, ketika beliau syahid dibunuh oleh para pemberontak, darah beliau menetes tepat di atas mushaf Alquran yang sedang dibacanya.
Utsman bin Affan RA pernah mengucapkan sebuah kalimat indah:
Kisah ini menyadarkan kita: jika hari ini kita merasa berat membaca Alquran, itu adalah tanda bahwa hati kita sedang kotor dan terjangkiti penyakit akhir zaman.
Jamaah sekalian, zaman akhir penuh dengan godaan, tontonan yang merusak, dan pemikiran yang menyimpang. Alquran diturunkan bukan sekadar untuk dibaca saat ada orang meninggal, atau dilombakan suaranya saja. Alquran adalah pelampung kita di lautan fitnah dunia.
Mari jadikan bulan Ramadan ini sebagai titik balik agar kita kembali mencintai, membaca, memahami, dan mengamalkan Alquran. Mari kita tutup dengan doa:
Ya Allah, jadikanlah Alquran sebagai penyejuk hati kami, cahaya di dada kami, pelipur kesedihan kami, dan penghapus kegelisahan kami. Jadikanlah Alquran sebagai syafaat bagi kami di hari kiamat kelak.

Komentar0