TfC0Tpd7Tpd5GUC9TfA0BUr7BY==

Ceramah: Ekonomi Nyekik, Zaman Makin Pelik, Anak Pendidikannya Harus Tetap Terbaik

"Ekonomi Nyekik, Zaman Makin Pelik, Anak Pendidikannya Harus Tetap Terbaik"

Mukadimah (Pembukaan)

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.

(Bapak-bapak, Ibu-ibu, jamaah sekalian yang dirahmati Allah...)

Mari kita awali perjumpaan ini dengan syukur kepada Allah SWT. Alhamdulillah, hari ini kita masih bisa ngaji, masih bisa silaturahmi. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW.


صَـلاَةُ اللهِ سَـلاَمُ اللهِ ، عَـلَى طٰـهَ رَسُوْلِ اللهِ

صَـلاَةُ اللهِ سَـلاَمُ اللهِ ، عَـلَى يـٰسٓ حَبِيْبِ اللهِ

(Sholatullah salamullah, ‘Ala Thoha Rasulillah)

(Sholatullah salamullah, ‘Ala Yasin Habibillah)


Zaman saiki zaman wis tuwo (Zaman sekarang zaman sudah tua)

Golek rejeki rodo rekoso (Mencari rezeki agak susah)

Beras lan lengo larang regone (Beras dan minyak mahal harganya)

Ibu-ibu mumet mikire (Ibu-ibu pusing memikirkannya)


Bocah saiki seneng dolanan (Anak sekarang suka bermain)

HP lan TikTok dadi tontonan (HP dan TikTok jadi tontonan)

Lali sholate lali Qur'anan (Lupa shalatnya, lupa baca Qur'annya)

Iki tantangan dadi godaan (Ini tantangan yang menjadi godaan)


Senajan urip pas-pasan bae (Meskipun hidup pas-pasan saja)

Agomo iku sing utamane (Agama itu yang paling utama)

Ayo diwulang ngaji anake (Ayo diajarkan ngaji anaknya)

Ben dadi bekal urip mulyone (Biar jadi bekal hidup mulianya)


Harto lan dunyo gampang sirnone (Harta dan dunia mudah sirnanya)

Anak sing sholeh iku bandhane (Anak yang sholeh itulah hartanya)

Biso nulungi bapak ibune (Bisa menolong bapak ibunya)

Mlebu suwargo kumpul kabehe (Masuk surga berkumpul semuanya)


1. Realita Zaman: Ujian Ekonomi dan Beratnya Menjaga Iman

Bapak-bapak dan Ibu-ibu, kalau kita rasakan hari ini, hidup rasanya makin berat ya? Ekonomi lagi susah, harga sembako naik turun tapi banyakan naiknya, biaya sekolah dan hidup makin mahal. Nyari uang zaman sekarang rasanya susah minta ampun.

Tapi yang lebih berat dari urusan dapur adalah urusan zaman. Godaan di luar sana makin ngeri. Anak-anak kita sekarang pegangannya HP, internet 24 jam. Tantangan menjaga agama di zaman sekarang ini persis seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW belasan abad yang lalu:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

"Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang bersabar berpegang teguh pada agamanya di tengah-tengah mereka, bagaikan orang yang menggenggam bara api." (HR. Tirmidzi).

Panas, Bu! Mau jujur, sering rugi. Mau ngajarin anak ngaji, anaknya lebih betah lihat TikTok. Dilemanya luar biasa.

2. Selipan Humor ala Pesantren

Ngomong-ngomong soal anak dan ekonomi, kadang kita dibikin pusing sendiri. Kemarin ada cerita, seorang bapak nanya ke anaknya yang baru pulang mondok:

Bapak: "Le, kamu di pesantren diajarin doa apa aja sama Kyai?"

Anak: "Banyak, Pak. Doa mau makan, doa tidur, doa masuk kamar mandi..."

Bapak: "Nah, doa minta rezeki atau minta uang ke orang tua ada diajarin nggak?"

Anak: "Oh, kalau minta uang ke bapak nggak diajarin doanya."

Bapak: "Lho, kenapa?"

Anak: "Kata Kyai kelamaan. Kalau minta uang bapak nggak usah pakai doa, langsung di-WA aja: 'Pak, kuota habis, transfer!'."

(Jamaah tertawa)

Bapak-bapaknya langsung pegang kepala. Ibu-ibunya juga sama, doanya sekarang sudah ganti. Kalau habis shalat doanya begini: "Ya Allah, jadikanlah suami hamba orang yang rajin ibadah, rajin shadaqah, dan rajin ninggalin uang di atas kulkas." Amin!

3. Pendidikan Anak: Sumber Kebahagiaan Utama

Bapak/Ibu, mari kita kembali serius sejenak. Sesulit apapun ekonomi kita, semahal apapun biaya hidup hari ini, ada satu "Aset" yang tidak boleh kita korbankan: Pendidikan Agama Anak.

Harta benda bisa habis dijual untuk bayar hutang. Tapi anak yang sholeh/sholehah, merekalah yang akan membayar "hutang" dosa-dosa kita di hadapan Allah SWT. Seperti pesan Nabi SAW, amal yang tidak akan terputus salah satunya adalah:

وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ

"Anak sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya." (HR. Muslim).

Di kalangan ulama NU, seperti Almaghfurlah KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen), beliau pernah berpesan: "Cari rezeki itu yang penting barokah. Sedikit cukup, banyak turah (sisa)." Jangan sampai karena kita terlalu sibuk memikirkan susahnya ekonomi, kita lupa menanamkan agama pada anak. Kita terlalu takut anak kita kelaparan di dunia, tapi kita tidak takut anak kita kelaparan iman di akhirat.

Untuk urusan rezeki anak, Allah sudah menjamin dalam Al-Qur'an Surah Hud ayat 6:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya."

4. Hikayat Inspiratif: Ibunda Imam As-Syafi'i

Kalau Ibu-ibu merasa berat menyekolahkan anak di tengah ekonomi yang serba pas-pasan, mari kita ingat kisah ibunda dari ulama besar kita, Imam As-Syafi'i rahimahullah.

Ibunda Imam Syafi'i adalah seorang janda miskin di Makkah. Uang untuk makan sehari-hari saja susah, apalagi untuk membayar guru ngaji. Suatu hari, ibunya membawa Syafi'i kecil ke sebuah majelis ilmu. Karena tidak punya uang untuk bayar gurunya, Syafi'i kecil disuruh duduk di paling belakang. Syafi'i tidak punya alat tulis, ia hanya menggunakan jarinya yang dibasahi air liur untuk "menulis" di telapak tangannya, menghafal semua yang diucapkan gurunya.

Melihat keadaan janda miskin itu, sang guru sempat kasihan. Namun, siapa sangka? Karena keikhlasan doa ibunya dan keteguhan di tengah kemiskinan, Allah angkat derajat anak janda miskin tersebut. Imam Syafi'i sanggup menghafal kitab Al-Muwaththa' karya Imam Malik di usia yang sangat belia. Sang ibu melepas Imam Syafi'i merantau ke Madinah tanpa bekal harta, hanya dibekali doa tulus: "Pergilah menuntut ilmu, ibu titipkan engkau kepada Allah."

Hasilnya? Imam Syafi'i menjadi salah satu ulama terbesar dalam sejarah Islam, yang pahalanya terus mengalir untuk ibundanya hingga hari kiamat.

5. Kesimpulan dan Penutup

Jamaah sekalian, dari hikayat tadi kita belajar: Kebahagiaan sejati orang tua itu bukan ketika melihat anaknya turun dari mobil mewah. Kebahagiaan sejati orang tua adalah ketika kita sudah terbujur kaku di alam kubur, lalu tiba-tiba cahaya terang benderang datang menyinari kubur kita. Saat kita bertanya kepada malaikat, "Cahaya apa ini?", malaikat menjawab, "Ini adalah istighfar dan doa dari anakmu yang kau sekolahkan di majelis ilmu dulu."

Jadi:

  • Biar beras mahal, tetap doakan anak.

  • Biar pusing mikirin cicilan, jangan sampai anak lepas dari pantauan ibadahnya.

  • Biar godaan di luar banyak, masukkan anak ke lingkungan yang baik (pesantren/madrasah/TPQ).

Mari kita tutup dengan doa yang diajarkan dalam Al-Qur'an, memohon keluarga yang menyejukkan hati.

Doa Penutup:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Terima kasih atas perhatiannya, mohon maaf bila ada salah kata. Yang benar datangnya dari Allah, yang salah dari kelemahan saya sebagai hamba.

وَاللّٰهُ الْمُوَفِّقُ إِلَى أَقْوَمِ الطَّرِيقِ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Bapak/Ibu, ada topik spesifik lain yang ingin ditambahkan ke dalam materi ini ke depannya (misalnya tentang adab penggunaan gadget bagi anak)?

Komentar0

Type above and press Enter to search.