22 Kisah, Riwayat dan Hikayat tentang Nisfu Sya'ban
Bersumber dari Hadis Nabi, Atsar Sahabat, dan kebiasaan para Ulama Salaf (terdahulu).
Pernahkah terbayang, saat kita sibuk tertawa menyusun rencana liburan atau target duniawi tahun depan, nama kita justru sedang "ditimang-timang" di langit untuk dihapus dari daftar penduduk bumi? Malam Nisfu Sya'ban bukan sekadar malam pergantian buku catatan amal biasa. Di malam yang hening itulah, nasib miliaran manusia ditentukan; siapa yang akan bahagia, siapa yang celaka, hingga siapa yang akan dicabut nyawanya sebelum Ramadan tiba. Ini adalah momen krusial di mana takdir setahun ke depan diketok palu, sementara banyak dari kita masih tertidur lelap dalam kelalaian yang panjang.
Para Nabi dan orang-orang saleh terdahulu (Salafus Shalih) memahami betul "ngeri"-nya malam ini. Mereka tidak menyambut Nisfu Sya'ban dengan perayaan meriah, melainkan dengan wajah pucat, air mata, dan rasa takut yang mendalam akan nasib mereka di hadapan Allah. Melalui artikel ini, kita akan menyelami riwayat dan kisah hikayat yang menggetarkan hati—mulai dari tangisan Umar bin Khattab hingga kesaksian para malaikat—agar kita paham mengapa satu malam ini terlalu mahal harganya untuk dilewatkan begitu saja.
1. Hikayat Usamah bin Zaid dan Pertanyaannya tentang Puasa Nabi
Ini adalah kisah dialog antara sahabat Usamah bin Zaid r.a. dengan Rasulullah SAW. Usamah heran melihat Nabi berpuasa begitu sering di bulan Sya'ban, lebih dari bulan lainnya (selain Ramadan).
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ؟ قَالَ: "ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ"
Kisah & Terjemahan:
Usamah berkata: "Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam satu bulan (selain Ramadan) sebanyak yang engkau lakukan di bulan Sya'ban?"
Rasulullah SAW menjawab: "Itu adalah bulan yang sering dilalaikan manusia, letaknya antara Rajab dan Ramadan. Di bulan itu, amal-amal diangkat kepada Tuhan semesta alam. Maka aku suka jika amalku diangkat saat aku sedang berpuasa."
(Referensi: HR. An-Nasa'i & Ahmad)
2. Kisah Aisyah r.a. Mencari Nabi di Malam Nisfu Sya'ban
Sebuah riwayat masyhur menceritakan Aisyah r.a. yang kehilangan Nabi di tengah malam pada malam Nisfu Sya'ban.
فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَخَرَجْتُ فَإِذَا هُوَ بِالْبَقِيعِ... فَقَالَ: "إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ"
Kisah & Terjemahan:
Aisyah r.a. berkata: "Aku kehilangan Rasulullah SAW pada suatu malam. Aku keluar mencarinya, ternyata beliau berada di Baqi' (pemakaman)... Beliau bersabda: 'Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla turun ke langit dunia pada malam Nisfu Sya'ban, lalu Dia mengampuni (hamba-hamba-Nya) yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah bulu domba (milik suku) Kalb.'"
(Referensi: HR. Tirmidhi & Ibnu Majah)
3. Hikayat "Dua Orang yang Tertolak" (Si Musyrik dan Si Pendendam)
Dalam riwayat lain tentang peristiwa Nisfu Sya'ban, diceritakan bahwa pada malam itu Allah memberikan "amnesti umum" kepada seluruh makhluk-Nya, kecuali dua jenis orang.
يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى خَلْقِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
Kisah & Terjemahan:
Rasulullah SAW bersabda: "Allah melihat kepada makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya'ban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang yang musyrik dan orang yang musyahin (orang yang bermusuhan/pendendam)."
(Referensi: HR. Ibnu Majah, disahihkan oleh Al-Albani)
4. Hikayat Pemindahan Kiblat (Tahwil al-Qiblah)
Banyak ulama menceritakan bahwa peristiwa besar pemindahan arah kiblat dari Masjidil Aqsa ke Ka'bah terjadi di pertengahan bulan Sya'ban. Ini adalah momen emosional bagi Nabi yang sering menengadah ke langit mengharap wahyu pemindahan kiblat.
قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا
Kisah & Terjemahan:
"Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai..." (QS. Al-Baqarah: 144).
Al-Qurtubi dan banyak ahli tafsir menyebutkan peristiwa ini terjadi pada hari Selasa, pertengahan bulan Sya'ban.
(Referensi: Tafsir Al-Qurtubi / Tafsir Ibnu Katsir)
5. Kisah "Bulan Para Pembaca Al-Qur'an" (Shahrul Qurra')
Ini adalah hikayat tentang kebiasaan para Salafus Shalih (ulama terdahulu). Ketika bulan Sya'ban tiba, suasana berubah drastis menjadi seperti "Ramadan kecil".
كَانَ حَبِيبُ بْنُ أَبِي ثَابِتٍ إِذَا دَخَلَ شَعْبَانُ قَالَ: هَذَا شَهْرُ الْقُرَّاءِ
Kisah & Terjemahan:
Diriwayatkan bahwa Habib bin Abi Tsabit (se একজন Tabi'in), apabila memasuki bulan Sya'ban, beliau berkata: "Ini adalah bulannya para pembaca Al-Qur'an (Qurra')." Beliau dan ulama lain mulai memperbanyak tilawah sebagai pemanasan sebelum Ramadan.
(Referensi: Kitab Lataif al-Ma'arif oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali)
6. Hikayat Amr bin Qais Menutup Tokonya
Sebuah kisah inspiratif tentang prioritas akhirat dari seorang ulama bernama Amr bin Qais Al-Mula'i.
وَكَانَ عَمْرُ بْنُ قَيْسٍ الْمُلَائِيُّ إِذَا دَخَلَ شَعْبَانُ أَغْلَقَ حَانُوتَهُ وَتَفَرَّغَ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ
Kisah & Terjemahan:
Adalah Amr bin Qais Al-Mula'i, apabila memasuki bulan Sya'ban, beliau menutup tokonya dan membebaskan dirinya (dari kesibukan dunia) untuk fokus membaca Al-Qur'an. Ini menunjukkan keseriusan ulama salaf menjadikan Sya'ban sebagai bulan karantina spiritual.
(Referensi: Kitab Lataif al-Ma'arif)
7. Perumpamaan "Menyiram Tanaman" oleh Abu Bakar Al-Warraq
Ini adalah hikayat berupa nasihat bijak (hikmah) yang menggambarkan siklus tiga bulan suci.
قَالَ أَبُو بَكْرٍ الْوَرَّاقُ الْبَلْخِيُّ: شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرُ لِلزَّرْعِ، وَشَعْبَانُ شَهْرُ السَّقْيِ لِلزَّرْعِ، وَرَمَضَانُ شَهْرُ حَصَادِ الزَّرْعِ
Kisah & Terjemahan:
Abu Bakar Al-Warraq Al-Balkhi berkata: "Bulan Rajab adalah bulan menanam benih. Bulan Sya'ban adalah bulan menyiram tanaman. Dan bulan Ramadan adalah bulan memanen tanaman."
Artinya, siapa yang tidak menanam dan menyiram di Sya'ban, sulit baginya memanen pahala maksimal di Ramadan.
(Referensi: Lataif al-Ma'arif)
8. Hikayat Malaikat Maut dan Catatan Takdir
Terdapat riwayat (meski diperdebatkan derajatnya, namun populer sebagai hikayat dalam kitab-kitab tafsir) bahwa pada Nisfu Sya'ban, daftar nama orang yang akan meninggal tahun itu diserahkan kepada Malaikat Maut.
يَقْطَعُ اللهُ الآجَالَ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى شَعْبَانَ، حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْكِحُ وَيُولَدُ لَهُ، وَقَدْ خَرَجَ اسْمُهُ فِي الْمَوْتَى
Kisah & Terjemahan:
Dalam sebuah atsar disebutkan: "Allah menetapkan ajal dari Sya'ban ke Sya'ban berikutnya. Hingga seseorang menikah dan memiliki anak, padahal namanya sudah keluar (tertulis) dalam daftar orang-orang yang akan mati."
(Referensi: Riwayat Ibnu Jarir & Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman)
9. Hikayat Turunnya Ayat Shalawat
Ulama seperti Imam Al-Qastallani dalam Al-Mawahib menyebutkan bahwa bulan Sya'ban juga disebut sebagai "Bulan Shalawat".
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Kisah & Terjemahan:
Dikisahkan oleh sebagian ahli tafsir bahwa ayat perintah bershalawat (QS. Al-Ahzab: 56) "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi..." diturunkan pada bulan Sya'ban. Oleh karena itu, Ibnu Abi Shaukaf berkata: "Sya'ban adalah bulan Shalawat kepada Nabi SAW."
(Referensi: Al-Mawahib al-Ladunniyah & Tafsir al-Qasimi)
10. Kisah Kebiasaan Penduduk Makkah Terdahulu di Bulan Sya'ban
Ulama ahli sejarah Makkah, Al-Fasi, mencatat kebiasaan unik penduduk Makkah saat masuk bulan Sya'ban dan Nisfu Sya'ban.
Al-Fasi menceritakan: "Ketika masuk malam Nisfu Sya'ban, penduduk Makkah (di masa lampau) baik pria maupun wanita keluar menuju Masjidil Haram. Mereka melakukan tawaf, salat, dan membaca Al-Qur'an hingga mengkhatamkannya. Mereka menyalakan lentera-lentera yang sangat banyak sehingga Masjidil Haram menjadi sangat terang benderang."
Ini menunjukkan bagaimana Nisfu Sya'ban telah lama dirayakan dengan ibadah komunal yang khusyuk.
(Referensi: Syifa' al-Gharam bi Akhbar al-Balad al-Haram)
11. Hikayat Nabi Isa a.s. dan Batu Putih (Keutamaan Ummat Muhammad)
Kisah ini sering dikutip dalam kitab-kitab nasihat (seperti Ghunyatut Thalibin karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani) untuk menunjukkan betapa berharganya malam Nisfu Sya'ban bagi umat Nabi Muhammad SAW dibandingkan umat terdahulu.
يَا عِيسَى، وَعِزَّتِي وَجَلَالِي، إِنَّ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ لِأُمَّةِ مُحَمَّدٍ أَفْضَلُ عِنْدِي مِنْ عِبَادَةِ هَذَا الشَّيْخِ أَرْبَعَمِائَةِ عَامٍ
Kisah & Terjemahan:
Suatu hari Nabi Isa a.s. melihat sebuah batu putih besar yang indah di atas gunung. Beliau heran dengan keindahannya. Tiba-tiba batu itu terbelah, dan di dalamnya ada seorang tua yang sedang beribadah. Orang itu berkata ia telah beribadah di dalam batu itu selama 400 tahun. Nabi Isa pun takjub dan berkata kepada Allah: "Ya Allah, aku tidak menyangka ada makhluk-Mu yang beribadah sehebat ini."
Maka Allah mewahyukan: "Wahai Isa, demi kemuliaan dan keagungan-Ku, sesungguhnya ibadah satu malam Nisfu Sya'ban dari umat Muhammad itu lebih Aku sukai daripada ibadah orang ini selama 400 tahun."
(Referensi: Durratun Nasihin & Ghunyatut Thalibin)
12. Hikayat Pohon Sidratul Muntaha dan Daun Takdir
Ini adalah hikayat masyhur yang bersumber dari penafsiran Ibnu Abbas r.a. tentang bagaimana teknis "pencatatan takdir" terjadi di malam Nisfu Sya'ban.
إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ نَسَخَ الْمَلَكُ مَنْ يَمُوتُ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى شَعْبَانَ. وَإِنَّ الشَّجَرَةَ (سِدْرَةُ الْمُنْتَهَى) لَتَنْفَضُّ أَوْرَاقَهَا بِأَسْمَاءِ مَنْ يَمُوتُ فِي تِلْكَ السَّنَةِ
Kisah & Terjemahan:
Dikisahkan bahwa di Sidratul Muntaha terdapat pohon yang daunnya sebanyak jumlah manusia. Pada setiap daun tertulis nama masing-masing hamba.
Ketika malam Nisfu Sya'ban tiba, Allah memerintahkan Malaikat maut untuk mencatat nama-nama mereka yang akan wafat tahun itu. Saat itu, goncanglah pohon tersebut dan gugurlah daun-daun yang bertuliskan nama orang yang ajalnya telah tiba. Seringkali seseorang masih tertawa dan membangun istana di dunia, padahal daun yang memuat namanya telah gugur dan kering di langit.
(Referensi: Tafsir al-Baghawi & Kanzul 'Ummal)
13. Pesan Umar bin Abdul Aziz kepada Gubernur Basrah
Sebuah riwayat tentang bagaimana pemimpin yang saleh (Khalifah Umar bin Abdul Aziz) sangat perhatian terhadap manajemen waktu ibadah rakyatnya.
عَلَيْكَ بِأَرْبَعِ لَيَالٍ فِي السَّنَةِ، فَإِنَّ اللهَ يُفْرِغُ فِيهِنَّ الرَّحْمَةَ إِفْرَاغًا: أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ، وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَلَيْلَةُ الْفِطْرِ، وَلَيْلَةُ الْأَضْحَى
Kisah & Terjemahan:
Umar bin Abdul Aziz menulis surat instruksi kepada gubernurnya di Basrah:
"Hendaklah engkau memperhatikan empat malam dalam setahun, karena sesungguhnya Allah mencurahkan rahmat-Nya sederas-derasnya pada malam-malam tersebut: (1) Malam pertama bulan Rajab, (2) Malam Nisfu Sya'ban, (3) Malam Idul Fitri, dan (4) Malam Idul Adha."
Ini menunjukkan bahwa para pemimpin Islam terdahulu menjadikan Nisfu Sya'ban sebagai agenda prioritas negara/wilayah.
(Referensi: Kitab Lataif al-Ma'arif, Ibnu Rajab)
14. Hikayat Atha' bin Yasar tentang Ketakutan Malam Itu
Atha' bin Yasar adalah seorang Tabi'in besar (murid para sahabat). Kisah ini menggambarkan suasana hati para ulama saat menghadapi Nisfu Sya'ban—bukan dengan pesta, tapi dengan ketakutan akan nasib.
مَا مِنْ لَيْلَةٍ بَعْدَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَفْضَلُ مِنْ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ... وَلَرُبَّمَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ دَارِهِ وَقَدْ نُسِخَ اسْمُهُ فِي الدِّيوَانِ
Kisah & Terjemahan:
Atha' bin Yasar berkata: "Tidak ada malam setelah Lailatul Qadar yang lebih mulia daripada malam Nisfu Sya'ban... (Pada malam itu takdir disalin), hingga terkadang seorang laki-laki keluar dari rumahnya untuk bepergian, padahal namanya telah disalin ke dalam daftar orang-orang yang akan binasa (mati), sementara ia tidak menyadarinya."
(Referensi: Musannaf Abdurrazzaq & Lataif al-Ma'arif)
15. Hikayat Jibril dan 300 Pintu Rahmat
Kisah pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan Malaikat Jibril di malam Nisfu Sya'ban yang menggambarkan luasnya ampunan Allah.
أَتَانِي جِبْرِيلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، هَذِهِ لَيْلَةٌ تُفْتَحُ فِيهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَأَبْوَابُ الرَّحْمَةِ. قُمْ فَصَلِّ وَارْفَعْ يَدَيْكَ
Kisah & Terjemahan:
Nabi SAW bersabda: "Jibril datang kepadaku pada malam Nisfu Sya'ban dan berkata: 'Wahai Muhammad, malam ini pintu-pintu langit dan pintu-pintu rahmat dibuka. Bangunlah, dirikanlah salat, dan angkatlah tanganmu ke langit!'
Nabi bertanya: 'Malam apakah ini wahai Jibril?'
Jibril menjawab: 'Malam ini dibukakan 300 pintu rahmat. Allah mengampuni semua orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, kecuali penyihir, dukun, orang yang bermusuhan, atau pecandu khamar... sampai mereka bertaubat.'"
(Referensi: HR. Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman)
16. Kisah Tangisan Umar bin Khattab tentang "Ummul Kitab"
Kisah ini sangat relevan dibacakan saat Nisfu Sya'ban, karena berkaitan dengan ayat penghapusan dan penetapan takdir (Yamhullahu ma yasha'u...) yang sering dibahas pada malam tersebut. Umar r.a. mengajarkan kita untuk takut akan takdir buruk.
كَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَطُوفُ بِالْبَيْتِ وَيَبْكِي وَيَقُولُ: "اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَ عَلَيَّ شِقْوَةً أَوْ ذَنْبًا فَامْحُهُ، فَإِنَّكَ تَمْحُو مَا تَشَاءُ وَتُثْبِتُ، وَعِنْدَكَ أُمُّ الْكِتَابِ، فَاجْعَلْهُ سَعَادَةً وَمَغْفِرَةً"
Kisah & Terjemahan:
Suatu ketika Umar bin Khattab r.a. sedang tawaf mengelilingi Ka'bah sambil menangis tersedu-sedu. Beliau berdoa:
"Ya Allah, jika Engkau telah menuliskan (takdir) atasku sebagai orang yang celaka atau pendosa, maka hapuskanlah. Karena sesungguhnya Engkau menghapus apa yang Engkau kehendaki dan menetapkan (apa yang Engkau kehendaki), dan di sisi-Mu ada Ummul Kitab (Lauh Mahfuz). Ubahlah catatanku itu menjadi kebahagiaan dan ampunan."
(Referensi: Tafsir At-Tabari & Al-Lataif)
17. Hari Raya Malaikat di Langit
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitabnya menukil sebuah riwayat bahwa bukan hanya manusia yang memiliki Hari Raya, tetapi penduduk langit pun memilikinya.
إِنَّ لِلْمَلَائِكَةِ فِي السَّمَاءِ لَيْلَتَيْ عِيدٍ، كَمَا أَنَّ لِلْمُسْلِمِينَ فِي الْأَرْضِ يَوْمَيْ عِيدٍ. فَعِيدُ الْمَلَائِكَةِ لَيْلَةُ الْبَرَاءَةِ (لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ) وَلَيْلَةُ الْقَدْرِ
Kisah & Terjemahan:
Dikisahkan bahwa para Malaikat di langit memiliki dua malam "Hari Raya", sebagaimana kaum Muslimin di bumi memiliki dua hari raya (Idul Fitri dan Adha).
Hari rayanya para Malaikat adalah Malam Bara'ah (Nisfu Sya'ban) dan Malam Lailatul Qadar. Bedanya, hari raya Malaikat adalah malam hari karena mereka tidak tidur, sedangkan hari raya manusia adalah siang hari karena manusia tidur di malam hari. Ini menunjukkan betapa agungnya Nisfu Sya'ban di mata penduduk langit.
(Referensi: Ghunyatut Thalibin)
18. Kisah Para Tabi'in Syam Memakai Wewangian
Ini adalah hikayat tentang cara merayakan Nisfu Sya'ban. Ternyata, tradisi memakai baju bagus dan wewangian di malam Nisfu Sya'ban sudah dilakukan oleh ulama Tabi'in di negeri Syam.
كَانَ خَالِدُ بْنُ مَعْدَانَ، وَلُقْمَانُ بْنُ عَامِرٍ، وَغَيْرُهُمَا يَلْبَسُونَ فِيهَا أَحْسَنَ ثِيَابِهِمْ، وَيَتَبَخَّرُونَ، وَيَكْتَحِلُونَ، وَيَقُومُونَ فِي الْمَسْجِدِ لَيْلَتَهُمْ تِلْكَ
Kisah & Terjemahan:
Diriwayatkan bahwa Khalid bin Ma'dan, Luqman bin Amir, dan ulama Tabi'in lainnya (di Syam), pada malam Nisfu Sya'ban mereka akan memakai pakaian terbagus, memakai wewangian (dupa/bukhur), memakai celak mata, dan menghabiskan malam itu di masjid untuk beribadah.
Mereka menghormati malam itu layaknya menyambut tamu agung.
(Referensi: Lataif al-Ma'arif, Ibnu Rajab)
19. Filosofi Nama "Sya'ban" oleh Zun Nun Al-Misri
Seorang ulama sufi besar, Zun Nun Al-Misri, memberikan hikayat filosofis tentang kenapa bulan ini dinamakan Sya'ban.
سُئِلَ ذُو النُّونِ الْمِصْرِيُّ عَنْ شَهْرِ رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَرَمَضَانَ فَقَالَ: "شَعْبَانُ لِتَشَعُّبِ الْخَيْرَاتِ"
Kisah & Terjemahan:
Ketika Zun Nun Al-Misri ditanya tentang makna bulan-bulan mulia, beliau berkata: "Sya'ban dinamakan demikian karena Tasha'ub al-Khairat (bercabang-cabangnya kebaikan) di dalamnya."
Beliau mengibaratkan Sya'ban seperti pohon yang rindang, di mana setiap dahannya adalah kebaikan yang bisa dipetik oleh siapa saja yang mau mengulurkan tangannya (beramal).
(Referensi: Hilyatul Auliya)
20. Hikayat Ikrimah tentang "Malam Pembagian Dana"
Ikrimah, mantan budak sekaligus murid Ibnu Abbas r.a., memiliki pandangan unik bahwa malam Nisfu Sya'ban adalah malam "Anggaran Tahunan".
عَنْ عِكْرِمَةَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: {فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ} قَالَ: هِيَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، يُبْرَمُ فِيهَا أَمْرُ السَّنَةِ، وَيُنْسَخُ الْأَحْيَاءُ مِنَ الْأَمْوَاتِ، وَيُكْتَبُ الْحَاجُّ، فَلَا يُزَادُ فِيهِمْ أَحَدٌ وَلَا يُنْقَصُ مِنْهُمْ أَحَدٌ
Kisah & Terjemahan:
Ikrimah menafsirkan ayat "Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah" (QS. Ad-Dukhan: 4). Beliau berkata: "Itu adalah malam Nisfu Sya'ban. Pada malam itu ditetapkan urusan setahun, dipisahkan daftar orang hidup dan yang akan mati, dan dicatat siapa saja yang akan berangkat haji tahun itu. Tidak akan ditambah satu orang pun dan tidak dikurangi satu orang pun dari catatan itu."
(Referensi: Tafsir Al-Qurtubi)
21. Perumpamaan "Membersihkan Diri" sebelum Masuk Istana
Ulama memberikan tamsil (perumpamaan) yang sangat mengena tentang hubungan Sya'ban dan Ramadan. Ini sering dinukil dalam kitab Durratun Nasihin.
مَثَلُ شَهْرِ رَجَبٍ مَثَلُ الرِّيحِ، وَمَثَلُ شَعْبَانَ مَثَلُ الْغَيْمِ، وَمَثَلُ رَمَضَانَ مَثَلُ الْمَطَرِ
Kisah & Terjemahan:
Dikatakan oleh sebagian hukama (orang bijak): "Perumpamaan bulan Rajab adalah seperti angin. Perumpamaan bulan Sya'ban adalah seperti awan mendung. Dan perumpamaan bulan Ramadan adalah seperti hujan."
Barangsiapa yang anginnya tidak berhembus (di Rajab) dan awannya tidak menggumpal (di Sya'ban), bagaimana mungkin dia mengharapkan hujan rahmat turun membasahinya di bulan Ramadan? Sya'ban adalah waktu mengumpulkan "awan" amal saleh.
(Referensi: Kanzun Najah was Surur)
22. Wasiat Imam Ja'far Ash-Shadiq tentang Doa
Imam Ja'far Ash-Shadiq (cucu Rasulullah dari jalur Husain r.a.) memberikan penekanan khusus pada doa di malam Nisfu Sya'ban.
قَالَ جَعْفَرُ الصَّادِقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ وَالِاسْتِغْفَارَ، فَإِنَّهَا اللَّيْلَةُ الَّتِي قَدْ جَعَلَهَا اللَّهُ لَنَا أَهْلَ الْبَيْتِ بِإِزَاءِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ لِنَبِيِّنَا ﷺ
Kisah & Terjemahan:
Imam Ja'far Ash-Shadiq berkata: "Jika tiba malam Nisfu Sya'ban, perbanyaklah berdoa dan istighfar. Karena sesungguhnya itulah malam yang Allah jadikan (istimewa) untuk kami Ahlul Bait, sebagai penyeimbang Lailatul Qadar yang Allah berikan khusus untuk Nabi kami Muhammad SAW."
Maksudnya, jika Lailatul Qadar adalah puncak kemuliaan Nabi, maka Nisfu Sya'ban adalah malam syafaat dan keberkahan bagi keluarga dan umat beliau.
(Referensi: Al-Amali, Syaikh Saduq)
Demikian 22 Kisah, Riwayat dan Hikayat tentang Nisfu Sya'ban yang bersumber dari Hadis Nabi, Atsar Sahabat, dan kebiasaan para Ulama Salaf (terdahulu).
Penyusun: Agus Manshur Alqudsy

Komentar0