TfC0Tpd7Tpd5GUC9TfA0BUr7BY==

Risalah Satu Abad NU : Menjaga Sanad, Merawat Jagat: Solusi Aswaja di Tengah Disrupsi Zaman

Sabtu, 31 Januari 2026 (Harlah NU ke-100 Tahun Hijriyah Syamsiyah/Masehi).

Momentum Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) menjadi titik pijak historis yang krusial di tengah lanskap zaman yang berubah radikal akibat disrupsi teknologi dan arus informasi yang masif. Era ini menghadirkan tantangan serius bagi kehidupan beragama, ditandai dengan delegitimasi otoritas keagamaan tradisional dan munculnya fenomena belajar agama instan yang memicu pendangkalan pemahaman. 

Disrupsi zaman ini ditandai dengan percepatan teknologi digital yang masif, banjir informasi yang tak terbendung (information overload), hingga fenomena post-truth di mana kebenaran menjadi kabur di tengah kebisingan opini. Perubahan ini tidak hanya merombak tatanan ekonomi dan sosial, tetapi juga mengguncang sendi-sendi kehidupan beragama. Kondisi disrupsi ini mengancam terputusnya transmisi keilmuan yang otentik atau hilangnya sanad, yang dalam tradisi NU merupakan jaminan pertanggungjawaban intelektual dan spiritual hingga kepada Rasulullah SAW.


Selamat Harlah NU Satu Abad (1926-2026 M)

Sebagai respons strategis, tema "Menjaga Sanad, Merawat Jagat" diusung untuk menegaskan bahwa kembali pada ketatan tradisi keilmuan adalah prasyarat mutlak dalam menghadapi kompleksitas tantangan global. Risalah ini menempatkan Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) bukan sekadar sebagai doktrin, melainkan sebagai solusi komprehensif dan manhaj al-fikr (metode berpikir) yang moderat dan dinamis. 

KEUTAMAAN ULAMA

Dalam struktur tatanan kehidupan umat Islam, sosok ulama menempati posisi yang sangat luhur. Mereka bukan sekadar tokoh masyarakat atau pemuka agama, melainkan pemegang tongkat estafet kebenaran setelah terputusnya wahyu. Kedudukan ini ditegaskan secara eksplisit oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya: Rasulullah SAW bersabda:

العُلُمَاءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ

"Ulama adalah pewaris para Nabi." (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Di hari esok, 31 Januari 2026, jam'iyah kita tercinta Nahdlatul Ulama genap berusia 100 tahun dalam hitungan Masehi. Ini bukan sekadar perayaan angka, tapi momentum muhasabah di tengah tantangan zaman yang kian pelik.

Jagalah para Ulama'mu, hormati mereka dan mintalah nasehat serta penjelasan hukum-hukum Islam. Karena dari mereka kalian akan ditunjukkan sesuai syariat nabi Muhammad SAW. 

PROBLEMATIKA KEKINIAN DAN SOLUSI ASWAJA

Masyarakat Indonesia hari ini dihadapkan pada "Tsunami Informasi" dan "Krisis Otoritas". Berikut adalah bedah masalah dan solusinya berdasarkan Manhaj NU:

1. Terputusnya Sanad Ilmu di Era "Mbah Google dan Ai"

Banyak generasi muda (Gen Z & Alpha) belajar agama secara instan dari media sosial tanpa guru yang jelas. Akibatnya, pemahaman agama menjadi tekstual, kaku, dan mudah mengkafirkan (takfiri).

Kembali pada Pentingnya Sanad Keilmuan

Dalam tradisi NU, ilmu bukan sekadar informasi, tapi cahaya yang mengalir dari dada ke dada (min shadrin ila shadrin). Dawuh Ulama Klasik (Atsar) Imam Muhammad bin Sirin (Tabi'in) berkata dalam Muqaddimah Shahih Muslim:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

"Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian."

Implementasi: Mengaji harus talaqqi (bertemu guru/kyai), atau setidaknya mengikuti ulama yang sanad keilmuannya tersambung hingga Rasulullah SAW, seperti para kyai di pesantren-pesantren NU.

2. Disrupsi Akhlak (Krisis Adab)

Di era digital, batasan antara ruang privat dan publik menjadi kabur. Kebebasan berekspresi seringkali mengabaikan akhlaqul karimah. Kita menyaksikan menjamurnya fitnah, ghibah online, hingga hilangnya rasa hormat kepada orang tua dan guru (ulama). Norma sopan santun yang menjadi ciri khas pesantren mulai tergerus oleh budaya instan yang cenderung kasar dan nihil adab.

Pendidikan Berbasis Sanad sebagai Benteng Akhlak

تَعَلَّمِ الأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ 
“Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari suatu ilmu.”

Solusi atas degradasi moral adalah kembali ke model pendidikan pesantren yang mengutamakan adab qobla 'ilmi (adab sebelum ilmu). Dengan menjaga sanad (hubungan guru-murid), seorang pelajar tidak hanya menyerap informasi, tetapi juga meneladani karakter dan keruhanian gurunya. Ini adalah obat bagi liarnya perilaku di dunia digital.

3. Disrupsi Tauhid (Krisis Keimanan)

Modernitas membawa ideologi materiil yang terkadang menjauhkan manusia dari Tuhan. Tauhid yang seharusnya menjadi fondasi kehidupan mulai goyah oleh paham-paham yang memuja logika semata, atau sebaliknya, terjebak pada pemahaman agama yang sempit dan radikal. Banyak orang mencari "tuhan-tuhan baru" dalam bentuk popularitas, materi, atau validasi di media sosial, sehingga esensi Lailahaillallah sebagai pusat kesadaran mulai memudar.

Tauhid yang Moderat (Tawassuth)

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ 
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang patut disembah) melainkan Allah.”
 (QS. Muhammad: 19).

Aswaja mengajarkan Tauhid yang kokoh namun inklusif. Melalui ajaran Imam Asy'ari dan Imam Maturidi, umat diajak mengenal Allah dengan akal yang sehat dan hati yang bersih. Solusinya adalah menghadirkan kembali narasi Ketuhanan yang menenangkan dan menyatukan, bukan yang menghakimi atau mengkafirkan. Tauhid harus bertransformasi menjadi energi positif untuk menjaga perdamaian dunia (merawat jagat).

Purifikasi Hati (Tasawuf)

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ 
“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” 
(QS. Ar-Ra'd: 28).

Untuk menangkal dampak buruk disrupsi, penguatan aspek tasawuf yang moderat sangat diperlukan. Dengan muhasabah (introspeksi) dan dzikrullah, seorang Muslim akan memiliki imunitas spiritual agar tidak mudah terombang-ambing oleh tren zaman yang merusak akidah dan moral.

4. Polarisasi, Hoaks, dan Ujaran Kebencian (Namimah Digital)

Media sosial memicu perpecahan (polarisasi). Fitnah menyebar cepat, merusak ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa). Dalil Al-Qur'an (Surah Al-Hujurat: 6):

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (tabayyun)..."

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah melarang hamba-Nya mempercayai berita dari orang yang tidak jelas kredibilitasnya (majhul) tanpa validasi, agar tidak menghukimi orang lain dengan kesalahan.

Fikih Syafi'i (Konteks Muamalah Digital):

Dalam kitab I'anatut Thalibin, dijelaskan tentang haramnya Ghibah (menggunjing) dan Namimah (adu domba). Di era digital, share berita bohong hukumnya sama dengan menyebarkannya secara lisan. Kaidah Ushul Fikih yang relevan:

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

"Menolak kerusakan (perpecahan bangsa) lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan (sekadar viral/eksis)."

5. Keresahan Ekonomi dan Mentalitas Instan

Kesulitan ekonomi seringkali melemahkan iman, memicu judi online, pinjol ilegal, dan kriminalitas. NU lahir diawali dengan Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Saudagar). Kita harus mandiri secara ekonomi namun tetap bertawakkal. Tauhid Ahlussunnah Wal Jamaah (Asy'ariyah) bab rezeki meyakini bahwa rezeki sudah diatur, namun kasab (usaha) adalah kewajiban hamba.

أَهْلُ السُّنَّةِ يَعْتَقِدُونَ أَنَّ اللهَ خَالِقُ أَفْعَالِ الْعِبَادِ خَيْرِهَا وَشَرِّهَا

(Ahlus Sunnah meyakini bahwa Allah adalah pencipta perbuatan hamba, baik dan buruknya).

Namun manusia memiliki Kasab (upaya) yang akan dihisab. Ini mengajarkan kita untuk bekerja keras tapi tidak stres berlebihan (mental health terjaga) karena hasil di tangan Allah.

REFLEKSI KE-NU-AN

Dawuh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari

Dalam Muqaddimah Qanun Asasi, Mbah Hasyim mengutip Surah Ali Imran ayat 103 dan menekankan persatuan:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

"Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai."

Beliau juga pernah berwasiat: "Siapa yang mau mengurusi NU, saya anggap ia santriku. Siapa yang jadi santriku, saya doakan husnul khotimah beserta anak cucunya."

Hikayah: Tongkat dan Tasbih Mbah Kholil Bangkalan

Sebagai penguat hati dalam berjuang, mari kita ingat kisah berdirinya NU. Sebelum NU berdiri, KH. Hasyim Asy'ari dilanda kegalauan. Beliau tidak langsung mendirikan jam'iyah, melainkan menunggu isyarah dari gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan.

Syaikhona Kholil tidak mengirim surat, melainkan mengutus KH. As'ad Syamsul Arifin (saat itu masih santri muda) untuk mengantar Tongkat dengan pesan ayat QS. Taha: 17-21 (isyarah untuk memimpin umat/tongkat Musa).

Kemudian disusul pengiriman Tasbih dengan pesan "Ya Jabbar, Ya Qahhar" (isyarah ketegasan dan keberanian). Pelajaran (Ibrah) yang dapat kita ambil dari kisah ini:

  1. Adab kepada Guru: Mbah Hasyim yang alim pun tidak melangkah tanpa restu guru.
  2. Keseimbangan: Tongkat simbol komando/kepemimpinan (struktural), Tasbih simbol spiritualitas (kultural). NU harus kuat secara manajemen organisasi, tapi tidak boleh kering dari dzikir dan tirakat.

PENUTUP 

Di abad kedua Masehi NU ini, mari kita perkuat Ukhuwah Nahdliyyah (persaudaraan sesama warga NU), Ukhuwah Islamiyah (sesama muslim), dan Ukhuwah Basyariyah (sesama manusia).

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

(Allahumma arinal haqqa haqqa warzuqnat tiba'ah, wa arinal bathila bathila warzuqnaj tinabah)

"Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kepada kami yang salah itu salah dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya."

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Tharieq

Agus Manshurudin Al Qudsy, Selapanan Rijalul Ansor PR GP Ansor Lau - Dawe Kudus

Komentar0

Type above and press Enter to search.